Bpk Pariwisata di Pesta

January 22nd, 2007 by zizy

Kemarin saya pergi ke acara kawinan temen sekantor saya, Nina. Dari rumah jam 12, tiba di Aceh Sepakat jam setengah satu. Karena saya sendiri, mungkin agak aneh buat sebagian orang. Tapi saya sih cuek aja.

Pesta adat Aceh. Pelaminannya kuning keemasan, dan kedua pengantin berdiri di panggung, kelihatan sedang mengobrol. Saya masuk. Di sebelah kiri pagar ayu, di sebelah kanannya pagar bagus (bagus-bagus memang ! :p~~ )

Saya masuk dan duduk di daerah sebelah kiri, di belakang barisan pagar ayu. Di situ ada Intan, yang jadi penerima tamu. Dia sedang gantian jaga sama yang di luar. Makan dulu.

Setelah mengambil sedikit kue dan segelas air buah, saya kembali ke tempat duduk. Intan juga sudah mau kembali ke depan, menunaikan tugas mulia. Ya kan Tan? Hehhehe….

Celingak celinguk. Mana sih, kok muka-muka yang saya harapkan tidak muncul juga? Sms dari baba masuk, katanya minta dijemput. Bah! Cembetol aja, orang sudah di pesta juga.

Pas lagi celingak-celinguk begitu, tiba-tiba muncul seraut tampang ke-arab2an, berkumis. Alamaakkk…..!!

Ingat kan cerita saya ketika GA 187 balik ke Medan dan saya ganti pesawat ke GA 190? Waktu di GA 190 itu saya duduk di tengah, sebelahan sama bapak-bapak yang kerja di Dinas Pariwisata Provsu. Nah, itu dia! Muncul di pestanya Nina. Namanya Pak R.

Dia juga kelihatan surprise ada saya di situ. Haduh……….. malasnya, begitu pikir saya. Nanti pasti saya harus basa-basi lagi sama dia. Saya lalu berdiri, mau lihat-lihat jajanan lagi. Daripada bengong dan juga menghindari dihampiri sama Bapak tadi. Soalnya dia kelihatan melirik-lirik terus ke tempat duduk saya, daripada nanti datang dia….

Saya ke barisan jajanan di sebelah kanan. Lalu ngobrol-ngobrol sama Unyak. Gak lama, si Nurul sama suaminya masuk. Nah, ada juga muka yang ‘menenangkan’ begitu pikir saya. Langsunglah kami berbincang-bincang yang tak jelas.

Tahu-tahu Pak R itu sudah nongol di depan mata. Masih dengan senyum ramahnya (yang menurut saya agak kelewatan ramah).

“Hei…. apa kabar?”

“Baik pak..” saya menyunggingkan senyum. Halaqhh…

“Ini siapanya?” katanya nunjuk ke pelaminan.

“Oh, dua-duanya teman saya…”

“Kalau saya, orang tuanya ini teman sma saya…” timpalnya lagi.

Hah??!! *Gubraks* Matilah kita.

“Sama siapa???” tanya nya lagi sambil mMatanya melihat-lihat ke kanan kiri saya. Cari siapa sih Pak?

“Sendiri saja Pak.”

“Sama! Saya juga sendiri..” sahutnya cepat sambil nyengir-nyengir lagi.

So? Kenapa rupanya? Cembetol ajalah bapak ini..! Rrrrrrrr……………

Bapak ini ramah atau kelewatan ramah ya? Sekedar kilas balik, waktu di pesawat, saya terpaksa mengeluarkan novel karena dia “terlalu semangat” mengajak ngobrol. Sampai waktu turun dari pesawat, dan ketemu lagi sama bapak R ini di bawah, saya dikenalkan dengan anak perempuannya yang jemput dia di bandara. Habis itu saya langsung cabut, cari jalan lain biar gak kepentok dia.

Udah gitu, kira2 bulan lalu, saya dan rekan kantor ketemu dia di tempat makan. Dia naik avanza baru, sama sopirnya. Waktu itu dia bilang ke teman saya kalau dia kenal saya dia pesawat. Harusnya sih fine aja, cuma jangan terlalu excited napa?

Habis ambil minuman, dia pergi ke depan. Dia nyanyi dengan diiringi band kawinan.

Komentar Nurul, “Idih, suaranya gak nyambung.”

Lalu setelah nyanyi dua lagu, dia turun dan tahu-tahu sudah ada lagi di dekat kita. Hhhh…… Saya gak ingat betul apa lagi yang dikatakannya, tapi saya asal jawab aja dengan, “Gak nyanyi lagi, pak.”

Maksudnya biar dia segera pergi dari dekat saya. Dia tertawa-tawa lagi dan pergi ke depan.

Habis itu saya yang diledekin sama teman-teman saya. Gara-gara bapak pariwisata tadi. Huh… Borjong lah! :)
………

LIBURAN AKHIR TAHUN

January 12th, 2007 by zizy

Tanggal 31 Des 2006. 15.10

Saya bersiap-siap turun ke bawah. Di persimpangan jalan kecil — yang memang seharusnya hanya untuk turun, namun karena jalan naik sedang ada galian, jadi semua kendaraan naik dan turun melalui jalan turun. Saya mengikuti kijang di depan saya, yang juga mengikuti fortuner gray di depannya. Ternyata di depan fortuner ada sedan yang mau naik, dengan antrian dua mobil lagi di belakangnya. Alhasil karena ingin menghindar, atau mungkin juga karena merasa mobilnya besar, fortuner itu nekat turun ke jalan tanah yang agak rendah. Sedan melaju pelan. Fortuner pun bermaksud mundur. Tapi apa daya, ternyata mobil jadi oleng!! Ban kanan belakangnya terangkat, dan pasti membuat panik penumpang di dalamnya. Beberapa penduduk mendekat, barangkali cuma ingin tahu saja, penasaran melihat mobil sebagus dan segagah fortuner. Petugas Hotel Niagara segera datang dan langsung berdiskusi. “Cemana tadi ceritanya bang? Kok bisa nyangkut kek gini?” begitulah kira-kiraaa…. :p~~

Semua mobil yang tadinya mau naik disuruh turun lagi ke bawah. Biar bergantian dengan kami yang akan turun.

Tidak sampai 10 menit, sambil tetap penasaran kira-kira bagaimana ya cara si fortuner keluar dari jebakan yang dalam itu? —- kami tiba di danau Toba. Ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk main jetski sepuasnya. Soalnya abang saya masih di Arab, berhaji dan memelihara brewoknya. Biasanya kalau ada abang saya, suka rebutan main (maklum armadanya cuma satu), dan saya tidak diijinkan bawa sendiri. Danau Toba yang seram dan agak-agak mistis itu memang suka buat kuduk merinding. Jadi ini benar-benar kesempatan langka, hihihihi…

Suasana di danau ramai banget. High season seperti ini memang bawa rejeki buat penduduk sekitar danau. Bebek-bebekan, skuter air (model jetski jaman jebot..), kapal feri, sampai ban pelampung, laku keras disewa pengunjung.

Meluncur di Danau Toba dengan jetski, diterpa angin lembut, air danau yang warnanya hijau gelap, benar-benar menikmati hidup namanya… Air yang tempias ke muka dan tangan ketika jetski menghantam ombak-ombak kecil…. wah…! Bisa gak membayangkan kita terlempar dari jetski di Danau Toba? Syukurlah tidak terjadi.

Tadinya waktu saya bawa jetski sendirian, saya mau nekat ke Tomok , kan cuma 10mnt kalau pake jetski — mau sebelah-2an gitu ama kapal feri biar aman, tapi kok ya ciut juga. Mending ada teman lain yang mau ke Tomok, ini saya sendiri. Ada sih jetski hijau yang baru turun, teman abang saya. Saya lihat dari jauh, si Oom Jetski Ijo itu sibuk ber-sliding, membuat ombak. Pakaiannya lengkap, dengan helm. Semuanya warna ijo. Kerumunan anak muda di pinggir danau menonton atraksi tersebut.

Lalu jalan ke Batu Gantung. Awalnya nebak-nebak saja, pokoknya kalo lihat ada kapal feri bermuatan penumpang jalan kesana, ya diikutin aja. Air di dekat batu gantung itu tenang dan jerniii…..hh banget. Hijaunya itu luar biasa indah. Terlihat masih murni dan belum tercemar. Udaranya juga segar, dingin. Batu gantungnya saya lihat dari dekat dan seperti legendanya, pahatan batu itu memang mirip badan anjing.

Dari situ, saya putar balik lagi. Skuter-skuter berseliweran, juga speedboat. Di sisi yang lain, keadaan airnya juga sama dengan di sekitar batu gantung. Hijau, tenang, jernih. Membuat perasaan sedikit bergidik, membayangkan apa yang ada di dalam danau yang tenang itu. Hiihhh……!! Di pinggir danau, langsung berbatasan dengan daratan yang ditumbuhi pohon-pohon kecil. Ada satu yang membuat pemandangan itu terlihat sangat nature. Ada pondok kecil…!! Satu saja, terbuat dari papan-papan, atap ijuk, dan warna hitam. Gelap. Tua. Tapi bersih. Pondok itu bentuknya seperti rumah. Mungkin tempat beristirahat nelayan.

Setelah menghabiskan waktu satu jam mutar-mutar dan ngebut di danau yang tidak ada ombak itu :p~~ saya capek juga. Balik ke daratan, ganti baju, dan duduk sebentar di pinggir. Jetski dibungkus dan dinaikkan dengan troli otomatis ke atas, disimpan.

Beberapa lelaki (ada yang gendut :p)—- teman abang saya juga, mulai bersiap-siap turun ke danau untuk main jetski. Ada yang jetski nya warna oranye, ada yang merah kotak-kotak. Ternyata sore hari dipilih sebagai jam meluncur, karena lebih banyak angin dan ombak.

Saya balik ke Niagara jam 6 sore, dan ketika akan naik saya intip dulu. “Oh, fortunernya dah gak ada, berarti selamat dia.” Terus saya baca Bismillah dulu, supaya tidak kepentok sama mobil yang mau turun. Dan saya pun selamat sampai ke atas.

* * *

Menjelang detik-detik pergantian tahun. Memasuki tahun 2007………. tik tok tik tok tik tok…….!! Teeeeeetttt….. toeeettttttt……..

Selamat Tahun Baru 2007.

Semoga resolusi kita tahun ini tercapai. ^_^

mengenang TOGAP

January 5th, 2007 by zizy

Here’s my curhatitis when my beloved dog, Togap .. pass away a year ago. :(

Medan, 19 Oktober 2005.

TOGAP-ku sayang sudah pergi…
Setelah hampir seminggu terluka — karena digigit hewan kampung besar busuk jelek buas — akhirnya Togap ku yang mungil harus menyerah pada takdir. Ia tidak sanggup berjuang, dengan tubuhnya yang penuh luka besar. Aku tidak tau mau marah pada siapa, apakah karena drh nya yang kurang telaten menjahit lukanya, kurang pula memberi informasi ttg sakit dan cara perawatan di rumah — bgmn memberi makan kemudian kapan dibawa kembali— tp kemarin sore ketika aku membawa Togap k drh (sebelumnya dia kesana diantar spupuku) krn tidak mau makan dan semakin loyo, disana Togap disuntik dan dikasih makan paksa (sampe drh nya jg kena gigit dalam di jarinya).

Entah apa yg dilakukan drh nya ketika aku pergi sebentar beli obat Togap di apotik, tapi…ketika aku kembali, Togap sdh tertidur lemas. Tidak bertenaga.
Pulang ke rumah, malam itu aku lihat Togap tdk bs berdiri tegak. Badannya goyang2 kemudian terjatuh pelan, berbaring. Ia sempat membuka pahanya wkt Tt Cie mo mindahin dia ke keranjangnya, pertanda ia ingin dielus (aku melihat tp tdk mengelusnya. dan sekarang aku sangat menyesalll…. bagaimana mungkin aku tega tidak memberinya kasih sayang di saat dia sakit :( ). Tak lama kemudian, ia muntah. Semua obat dan makanannya keluar.

Tadi pagi, mami telpon aku, bilang klo Togap smakin lemas. Badannya mulai meregang. Aku sudah bergetar menahan tangis, tapi aku masih berusaha. Aku telpon TG, cerita btp sedihnya aku dan aku khawatir Togap tak selamat. Kata The Godfather, aku hrs cari drh lain, dan aku segera buka buku kuning utk cari drh lain.

Tapi tak lama O2 ku berbunyi lagi, dan ketika kubaca "Rumah" firasatku sudah tak enak.
"Si, Togap sudah tidak ada…" begitu kata mamiku. Kemudian telepon ditutup, dan aku segera lari ke toilet, menangis disana.

Sampai saat inipun aku masih merasa drh itu yg tidak becus mengobati, apalagi kemarin sore Togap dipaksa makan. Mgkn dia eneq, namanya jg sakit dan lemas, dipaksa telan begitu…. :(
Togap pun langsung dikubur di halaman depan, tanpa aku sempat pulang melihat jasadnya. Tp tak apalah, aku tahu aku tak akan sanggup klo melihat tubuh kecil itu terkubur (terutama dgn lukanya itu).

Aku masih ingat ketika di tempat drh, Togap memandangku terus tanpa lepas. Dia tahu aku ada disana dan tidak akan meninggalkan dia bersama orang2 asing itu…. tapi kini Togap sudah tidak ada…

Togap…. Togap…. maaf ya klo selama ini aku suka lupa sayang2 Togap…. :( Selamat jalan ya anjingku sayang….. mudah2an disana lukamu sembuh… jadi tidak sakit lagi… bisa maen2 dan lari2 disana…..

*huaaa………. jadi sedih lagiiiiii………..* :((

BAGASI HILANG di Lion Air

November 26th, 2006 by zizy

 

Kualitas
maskapai penerbangan Indo memang parah. Saya mengalaminya lagi ketika terbang
bersama rekan saya Kamis 23 Nov lalu.

 

Diawali
dengan pemberitahuan training yang mendadak, kami jadi terburu-buru
menyelesaikan semua kerjaan karena harus berangkat saat siang. Dan karena
mendadak itulah, kami tidak mendapat seat Garuda — bahkan sampai hari
minggu untuk kepulangan ke Medan — sehingga kami harus berangkat dengan dapat
Lion Air.

 

Kami tiba
di bandara pas jam 12, setelah saya ngebut & berhasil lewat dari razia
polisi — yang cari duit untuk makan siang (Hehee.. Untung banget bisa lolos,
soalnya sim saya sedang extended). Kami sudah di-check in kan seperti
biasa. Tapi karena saya dan rekan saya, Her ada bagasi, jadi kami mengantri
lagi di menit-menit terakhir. Saya mendapat nomor bagasi 32-31 & 32-32
untuk Her.

 

Saya
duduk di seat 18E, dan sebelah kanan saya ada ibu paruh baya. Beliau meminta
saya memasangkan safety bealt nya, karena ini penerbangan pertama baginya.

 

"Ada
bagasimu, dek?"

"Ada
buk.."

"Nanti
tolong bantu ya, sama-sama kita."

"Boleh
buk, gpp.."

 

Pesawat
Lion mendarat sangat mulus dan smooth (kali ini tidak ada kejadian pesawat
harus berputar kembali seperti GA187 mgg lalu hehe..). Saya memang suka
mencatat-catat, pesawat mana saja yang pilotnya bagus. Air Asia, Lion Air,
Batavia Air, biasanya mendarat mulus (eh, pernah sih AirAsia yang saya tumpangi
terguncang hebat tepat saat pesawat hampir menjejak aspal). Kalau pilot Garuda,
selalu saja ngebut kalau landing (ntah apa yang dikejar, kayak sopir angkot
aja..). Ya intinya hari itu kami tiba di Jakarta dengan selamat.

 

Turun
dari pesawat, hujan gerimis sehingga kami harus berjalan cepat ke gedung. Si
ibu mencolek saya.

"Dimana
bagasinya, dek?"

"Nanti
buk, ntar ambil bagasinya di dalam." Sahut saya. Bersama-sama kami masuk
dan menuju papan petunjuk Pengambilan Bagasi - Keluar.

 

Pelan-pelan
‘ban berjalan’ (saya tidak tahu nama tepatnya) meluncurkan koper-koper dan
barang bawaan lain milik penumpang. Her saya lihat sedang menjelaskan pada si
Ibu tadi bagaimana mengecek yang mana bagasinya. Sementara saya memelototi
satu-satu koper, mencari-cari yang mana milik saya.

 

Nah..!
Itu dia.
Segera
saya tarik koper saya. Polo kotak-kotak ukuran sedang (sebenarnya ini punya
mami saya, saya minjem doang.. hehehe). Nomer bagasi saya cocokkan dan pas.
Saya berpaling pada Her, dan menanyakan kopernya.

"Koper
lu mana Her?"

"Iya
nih, belum keluar. Kok lama banget ya?!" Beberapa koper yang mirip-mirip
miliknya dibiarkan lewat. Soalnya memang ada banyak sekali koper yang mirip.
Merek POLO, ukuran sedang, warna biru tua.

"Lu
tanda kan sama koper lu? Ada tandanya gitu gak..?"

"Ada
sih, di koperku itu ada kayak kertas gitu kak sy, nempel, warna orens."
dia mulai terlihat panik.

 

Kerumunan
penumpang perlahan bubar, hanya tinggal 4-5 orang saja yang masih menunggu
barang bagasi. Sampai kemudian ada sebuah koper biru Polo yang masuk terakhir,
ukuran sedang, tapi berantakan. Gembung disana sini karena kepenuhan. Tapi saya
yakin, itu juga bukan milik Her. Tadi kan yang mengangkat ke timbangan bagasi
saya sendiri, jadi saya ingat bahwa bentuknya tidaklah seperti itu.

 

Tapi kami
pun tetap mencoba mencocokkan nomor di tangan dengan stiker di kopor. 31-19.
Tidak cocok. Muka Her langsung pucat, panik. Seorang petugas Lion Air yang
berjaga di dekat situ menghampiri kami dan meminta stiker kami. Untuk
dicocokkan dengan bagasi-bagasi di Lost and Found. Dugaan dia,
kemungkinan koper telah terkirim dengan pesawat yang berangkat lebih awal. Tapi
jelas tidak mungkin, karena kami saja check in nya belakangan.

 

Seorang
pegawai Lion bernama Meli, mempersilahkan kami menunggu di kantor L&F. Tak
lama petugas bagasi kembali dengan tangan kosong. Koper Her tidak ketemu juga,
bahkan ia sudah mengecek ke bagian transit siapa tahu terbawa kesana. Sampai
disini kami sepakat dengan dugaan bahwa ada penumpang yang telah salah
mengambil koper yang bukan miliknya. Tapi, kenapa dia bisa lolos dari
pemeriksaan di pintu keluar?! Biasanya petugas akan membandingkan stiker koper
dengan yang ditempel di boarding pass.

 

Her sudah
panik dan tidak tenang. Meli menyodorkan kertas rangkap 2 untuk diisi Her,
pernyataan kehilangan bagasi. Apa saja barang yang ada di dalam koper, alamat
serta nomor hp yang bisa dihubungi — termasuk juga nomor hp saya. Dia hanya
bisa memberikan solusi, mudah-mudahan orang yang salah ambil itu segera datang
mengembalikan.

 

Dia juga
mengakui bahwa sisdur Lion memang kurang profesional. Katanya,"Kita memang
tidak seperti Garuda mbak. Kalau di Garuda, nomor bagasi tercatat langsung
dengan boarding pass, sehingga bisa kita lacak penumpangnya. Tapi di sini beda,
bagasi tidak tercatat."

"Tapi
mbak, biasanya di depan kan diperiksa lagi? Masa sih, orang bisa lolos bawa
koper orang?"

"Iya
mbak. Cuma penumpang kan tadi rame ya, sementara petugas kami sedikit. Kami
minta maaf ya mbak, tapi segera mbak kami hubungi bila ada berita
terbaru."

"Mbak,
saya minta tolong banget ya Mbak, tolong dibantu karena ini penting sekali buat
saya." Her memelas.

"Iya
mbak, pasti. Sekarang kami akan coba investigasi dulu. Apapun hasilnya, saya
akan telepon mbak Her sebelum jam 9."

"Tolong
diusahakan ya mbak, tolong banget. Saya butuh soalnya."

 

Kami pun
berlalu dengan wajah cemas dan tidak tenang. Yang benar sajalah, kami tiba sore
hari saat Jakarta sedang macet-macetnya, lalu koper hilang sementara besoknya
pagi-pagi sekali kami sudah ada jadwal pelatihan. Naik taxi Gamya, kami diantar
ke hotel. Sepanjang perjalanan, Her menelepon ke teman-temannya dan curhat.
Sementara itu pak supir tetap ceria di tengah-tengah kemacetan. Ceritanya
selalu tidak jauh-jauh dari polisi, yang katanya suka nangkapin mobil-mobil
yang bandel di jalan inti.

 

Tiba di
hotel jam 19.15. Setelah cek in hotel, meletakkan koper di kamar dan menukar
sepatu dengan sneaker yang nyaman, saya menemani Her berbelanja baju ke
Sarinah. Tidak sempat bersih-bersih muka dulu, karena takut Sarinah keburu
tutup.

 

Malamnya,
jam 20.45, ketika kami sedang makan malam di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk yang
bersebelahan dengan Bakmie GM, hape saya berbunyi. Dari Lion Air, dengan Meli.

 

Karena
stres dan panik, Her bolak-balik menanyakan hal yang sama pada Meli, sementara
Meli harus menjelaskan lagi berkali-kali, dan berkali-kali pula telepon
terputus. Ternyata telepon kantornya pakai system timer untuk
bertelepon, gembel amat sih….

Akhirnya
saya menelepon balik ke Lion daripada terputus-putus terus dan pembicaraan jadi
tidak selesai-selesai.

“Mbak
Mel, bisa diulangi lagi? Jadi bagaimana statusnya?”

 

Ternyata
pihak Lion telah melakukan x-ray pada koper yang tertinggal itu, dan didalamnya
ada buku, dan ada serbuk. Mereka menduga mungkin telah terjadi kesalahan
penempelan stiker, dan bisa saja koper 31-19 itu memang milik Her.


“Ada serbuk seperti susu begitu, Mbak.”

“Duh
kayaknya teman saya gak bawa susu-susuan gitu deh Mbak.”

Tidak ada
kepastian. Pihak Lion Air hanya bisa berjanji akan terus melacak keberadaan
koper Her. Mereka hanya bisa menunggu hingga ada penumpang yang melapor.

"Duh Tuhan," Her
bolak-balik menarik napas panjang. "Kira-kira, itu dibalikin ga sih,
ya?"

"Kalau dia sadar itu bukan koper
dia, ya pasti dibalikin lah Her. Untuk apa dia koper orang?"

"Iya sih, tapi masa sih dia lama
banget sadarnya kalau dia salah?"

 

Malam itu
Her tidur tidak tenang, pikirannya melayang ke kopernya terus. Rasanya tidak
masuk akal, ada orang yang salah ambil koper tapi tidak sadar-sadar juga.

 

Besoknya,
di sela-sela training, Her menelepon lagi ke Lion Air. Masih tidak ada titik
terang. Saya suruh Her kasih saran ke pihak Lion, untuk menelepon satu-satu
pernumpang. Tapi Lion bilang, rata-rata penumpang ambil tiket dari travel jadi
mereka tidak punya datanya. Halah…..bilang aja mereka malas, apalagi
teleponnya ajaib, 3menit mati. :D

 

Sambil
duduk di sofa empuk di dalam toilet yang mewahnya minta ampun, Her menelepon
temannya. Sepertinya temannya menyalahkan Her.

"Gua
tuh gak salah. Enggak, kopernya bukan tertukar, gua bukan salah ambil, tapi
koper gua yang dibawa penumpang lain."

 

Sorenya,
sehabis training, kami ke Plz Semanggi, belanja baju lagi (ck ck ck…). Selain
baju, juga beli make up, alat-alat
mandi. Benar-benar hari pemborosan. Gara-gara kelalaian Lion, banyak biaya yang
tidak terduga yang harus dikeluarkan.

 

Yang
mengherankan, kalau memang koper itu tertukar atau salah ambil, kenapa belum
ada yang melapor? Dan kalau memang koper itu dicuri, seharusnya tidak ada koper
lebih yang sekarang teronggok di ruangan Lion.

Atau
koper 31-19 itu memang milik Her? Tapi hasil x-ray nya jelas meragukan, belum
lagi tidak ada kertas orens yang menurut Her menempel di koper itu. Saya tidak
tahu apakah Her akan mengambil tindakan menuntut Lion Air atau masih menunggu
kabar.

 

Jadi
pelajaran juga sih buat kita. Next time, koper harus diberi tanda khusus entah
dikasih pita, tag name, gantungan kunci, atau dipakaikan gembok pagar
yang besar sekaligus biar tidak tertukar dengan yang lain.

 

Dan
sampai hari ini, empat hari sudah koper itu tidak kembali. Poor Her……

 

 

FLY with GA 187 (almost crash!!)

November 19th, 2006 by zizy

Begitu
pintu bus terbuka, rombongan penumpang berebut turun dan menuju tangga pesawat.
Saya berjalan cepat menenteng ransel, ke arah tangga depan. Seorang cewek di
depan saya dengan ransel “kompetitor” memotong antrian.

Setelah
meletakkan ransel di luggage cabin,
saya segera duduk di kuris 14F.

“Udah di pesawat,
bentar lagi take off.” Saya pencet send dan
sms pun terkirim.

Sebenarnya
pososi di jendela bukan favorit saya, tapi karena tiket saya di-check in kan
langsung oleh agen travelnya, saya tidak sempat memilih. Sebelah kiri saya
berderet dua cowok, yang satu langsung membuka koran, sementara yang tepat di
sebelah saya belum apa-apa sudah tertidur sambil menggenggam PDA nya.

 
Pesawat pun
bergerak pelan-pelan, menunggu antrian terbang. Dari jendela, saya lihat Lion
Air melaju kencang dan roda-roda itu pun terangkat sempurna. Sempat ada pikiran
jelek di kepala ketika melihat Lion Air terbang. Gimana kalau terjadi gagal terbang ya? Gimana kalau jatuh ya?

 
“Flight attendant, prepare for take off
position…” 
begitu aba-aba dari pilot. Kecepatan pesawat
pun ditambah. Saya berdoa dalam hati agar penerbangan lancar dan pesawat dapat take off dengan sempurna. Pesawat melaju
kencang, dan wuzzzzz…………. pesawat garuda dengan nomor penerbangan GA
187 tersebut berhasil take off.

 

Melihat
rumah-rumah kota Medan menjadi begitu kecil terlihat dari atas, saya berpikiran
aneh-aneh lagi. Entah kenapa, pesawat ini terasa berjalan lambat, seperti tidak
mau kencang. Tapi pelan-pelan posisi pesawat semakin tinggi, tapi tetap saja
saya merasa ada yang salah. Hati saya sudah was-was, masalahnya saya tidak bisa
mengenyahkan pikiran buruk saya. Bisikan-bisikan konyol bergema di kepala. Jangan-jangan rusak nih, trus, gimana kalau ternyata harus mendarat
darurat?,
atau, duh kok gak keliatan
apa-apa yah? Kok awan semua? Waduh, gimana kalau tabrakan sama Lion Air tadi?
Pikiran-pikiran menyesatkan itu tidak  bisa hilang meski saya sudah berusaha menepis.

 
Damn…!!
Saya berdoa lagi, lalu berusaha santai dan membuka novel, lebih baik cari
kesibukan daripada berpikir yang tidak-tidak. Cowok disebelah saya sudah mulai
nyenyak. Seperti kebanyakan penumpang Garuda lainnya, saya memang berangkat
dalam rangka kerja.

 
Sekitar 15
menit penerbangan, ting tong. “Para
penumpang kami yang terhormat, saya Kapten bla
bla
(saya tidak ingat namanya) dengan sangat menyesal — melaporkan bahwa
— kita harus kembali ke bandara Polonia, karena ada masalah pada…….”

 

Alahh……..!!
Saya langsung lemas. Dan langsung menyalahkan diri. Masalahnya, setiap saya
berpikiran aneh-aneh, hampir selalu kejadian. Ini bukan pertama kali kejadian.
Setahun lalu, ketika saya berangkat naik Mandala ke Jkt, di atas pesawat saya
juga berpikiran aneh-aneh. Saya bilang pada diri saya, jangan-jangan nih
pesawat harus balik lagi ke Medan, habis mesinnya kok berisik amat. Ternyata
kejadian kan? Mandalanya balik ke Medan, padahal itu sudah ½ jam perjalanan.

 
Back to
Garuda. Pilot menginformasikan bahwa kami akan segera mendarat kembali di
Polonia dalam waktu 15menit. Semua penumpang terdiam, tidak ada yang panik atau
bersuara — (taulah penumpang Garuda, jaim bok jaim…), tapi jelas sekali
semua cemas. Lima belas menit terasa begitu lama. Novel saya masukkan lagi ke
dalam tas. Dan saya memandang terus keluar jendela, berharap segera melihat
daratan.

Lalu saya
lihat pemandangan itu (bukan! bukan clark kent yang datang menyelamatkan
pesawat Garuda), tapi saya melihat dari ujung sayap (tempat duduk saya pas
sekali di sayap!) keluar sumthin
seperti cairan atau gas. Entah itu asap atau bahan bakar. Saya sempat menduga
apakah disitu kerusakannya.

 
Ketika
roda-roda pesawat menjejak ke aspal, alhamdulillah…
tidak terkira betapa leganya saya dan pasti juga semua penumpang. Ibu di
belakang saya langsung menelepon suaminya, melaporkan kejadian, dan juga minta
didoakan. Terdengar suara awak kabin meminta agar penumpang tetap duduk sampai
ada pemberitahuan berikutnya. Sebuah mobil pertamina datang ke sayap kanan.
Ternyata pilot memang mengambil langkah bijaksana, ia membuang bahan bakar
untuk menghindari kemungkinan terjadinya ledakan besar bila pesawat harus
mendarat darurat.

 
Tidak
sampai lima menit, kami semua dipersilahkan turun kembali dan menunggu di ruang
tunggu. Setelah menerima kartu TRANSIT,
saya menuju ke meja Garuda di dekat pintu. Seorang ibu mengajukan komplein dan cs nya terlihat kewalahan menjelaskan.
Ia meminta agar si ibu melapor ke customer
service
Garuda saja di depan.

 
Belajar
dari pengalaman saya sebelumnya yang ganti pesawat karena Mandala mengalami
kerusakan, saya langsung tarik ransel saya dan keluar dari ruang tunggu.
Biarlah yang lain komplein di situ, saya tahu betul mereka juga tidak bisa
kasih solusi yang pasti. Dan pesawat juga tidak mungkin berangkat lagi dalam
waktu 1jam ke depan.

 
Di depan
pintu masuk, saya berpapasan dengan dua rekan saya yang juga hendak berangkat
tapi dengan jam terbang yang berbeda. Mereka bengong melihat saya terburu-buru
keluar, dan saya jelaskan sambil jalan kalau pesawat kami mengalami kerusakan.

 
Ketika
masuk ke ruang customer service, ada
tiga bulek yang tadi satu pesawat juga dengan saya. Mereka diminta menunggu 15menit
(lagi-lagi 15menit!!) untuk mendapat kepastian pesawat. Setelah ketiganya
keluar, saya langsung duduk dan berpikir cepat alasan apa yang saya gunakan.

 
“Maaf Mbak,
saya harus berangkat sekarang, karena jadwal training saya nanti malam. Saya
minta digabung dengan teman saya, yang berangkat pakai GA 191. Bisa?” Padahal
sebenarnya saya trainingnya juga besok, jadi berangkat malam sih bisa-bisa
saja. Tapi gpplah bohong sedikit, daripada menunggu dan harus naik pesawat
rusak itu lagi? No way.

 
“Ibu ada
bagasi?”

“Ada. 1.
Kotak karton gitu.”

“Kita bisa
bantu ya Bu, untuk seat nya, tapi kan
sekarang ini barang ibu ada masih ada di pesawat, jadi mungkin tidak bisa cepat
memindahkannya.”

“Bagaimana
caranya biar bisa cepat? Perlu saya ambil sendiri atau bagaimana?”

“Waduh, tidak bisa Bu. Selain petugas, tidak
ada yang boleh mendekati pesawat.” Seorang petugas lelaki yang sedang makan
nasi bungkus nimbrung.

 
“Begini
saja Bu. Kita lihat dulu seat nya
buat Ibu, nanti untuk bagasinya kita usahakan dipindahkan. Kalau ternyata tidak
bisa, tidak apa-apa ya, tapi pasti sampai, cuma beda jam.”

 
“Ya sudah
tidak apa-apa.” Tukas saya cepat. Daripada tidak dapat seat, begitu saya pikir.

 
“Siapa nama
temannya tadi Bu?” tanyanya lagi. Eh?? Ternyata dia mau ngetest, beneran gak saya
punya teman yang saya sebutkan tadi. Hehehe…. saya sebutkan nama lengkap
teman saya itu, dan click! Nama itu
muncul di layar, dan saya dibuatkan satu grup dengan mereka. Ia menyerahkan boarding pass kembali pada saya dengan
coretan “TP 191, 16B.”

 
Saya
langsung berlari ke counter check in
Garuda, untuk meminta boarding pass
baru. Ada antrian dan sempat stress
menunggu giliran — petugasnya lelet minta ampun! — karena GA 191 memang sudah waktunya boarding. Tiba giliran saya, tahu-tahu
si petugas bilang “Waduh, mbak, kayaknya gak bisa ini. Sudah gak ada seat.

Saya
menarik napas menahan jengkel. Jelas di kertas itu ada tulisan nomor seat.

“Di cek
dulu deh Mbak, saya sudah melapor ke cs tadi.”

Dia lalu
menghubungi rekannya di cs dengan ht, dan mendapat jawabab kalau nama saya
memang sudah booked. Di 16B.” 
(Pengen
saya tonjok aja tuh orang. Bukannya dicek dulu kek, baru ngomong.)

Setelah
mendapatkan boarding pass baru, saya
langsung lari menuju ruang tunggu. Sempat tertahan antrian di depan pemeriksaan.
Ada seorang perwira polisi yang didampingi ajudannya, dia tersenyum ke saya dan
bilang, “Garudanya belum berangkat, kok.”

 
Saya
tersenyum dan mengatur napas. Jujur saja saya panik dan juga berkeringat karena
lari-lari. Langsung saya ambil antrian di depan pintu boarding. Dan ketika saya lihat ke kanan kiri, penumpang-penumpang
yang tadi satu pesawat dengan saya memandang heran. Mereka pasti bertanya-tanya
juga, kenapa saya sudah mengantri di antrian next flight? Di bus, saya ketemu dengan dua rekan saya tadi, yang
juga terheran-heran karena saya satu pesawat juga dengan mereka.

 
Begitu naik
pesawat, saya duduk di 16B. Di kanan saya, seorang bapak usia 50-an, yang
menjadi teman mengobrol sepanjang perjalanan. Sebenarnya bukan mengobrol, tapi
si Bapak yang kepala dinas salah satu intansti di medan sumut ini, memang hobi
bercerita.

 
Saya
sedikit lega karena telah lolos dari GA 187 yang rusak itu (Lolos? Apaan coba?
Hihihi…). Tapi di tengah perjalanan, tiga kali kami mengalami guncangan
hebat. Sempat khawatir, namun karena kali ini tidak ada bisikan-bisikan aneh
lagi, saya tidak terlalu panik.

 
Dan
alhamdulillah, akhirnya kami semua berhasil selamat sampai di tujuan. Walaupun harus diakui, trauma itu masih ada.

 

******

 

 

Birthday Wishes

November 3rd, 2006 by zizy

Dsc02804a"I read Cosmopolitan for what a 31st woman should have?
They wrote 3C :
 Commitment, Carrier, and Car…
You already have it all, and even you don’t, I can’t give one
I know your hobby was band, but I can’t give any record…
I know you love N93 a lot, but I don’t even have one…
So I know red means braveness, friendship, thought feeling, trustiness…
And all women love rose..."

Happy birthday…


Harusnya ini dikasih untuk tanggal tgl 4 Nov, tapi karena sesuatu dan lain hal dipercepat kasihnya. It’s okay…

Saya dapat ini dari salah seorang teman baik saya, yang bagi saya adalah seseorang yang bisa menempatkan diri menjadi benar-benar seorang "teman baik" di saat saya membutuhkannya.
I hope I can do the same thing to you…

Emmm…. I like this poem a lot…

Tx ya U’am  :)

SARANG PENYAMUN DI KUALA LUMPUR :)

July 13th, 2006 by zizy

Terbang ke Kuala Lumpur bagi penduduk kota Medan mungkin sudah biasa. Selain dekat dan bebas fiskal,
tiketnya juga relative lebih murah. Lebih murah daripada kita pergi ke Jakarta.

    Minggu lalu, medio 6-9 Juli saya bertiga dengan Irin
dan Sika, jalan-jalan ke KL. Sebenarnya bukan jalan-jalan banget,
karena masing-masing punya tujuan sendiri. Irin dan Sika mungkin ingin
jalan-jalan dan shopping, sementara saya selain tujuan shopping saya ingin
bertemu dengan Den, my li’l sista. Kira-kira seminggu sebelumnya, ada kejadian
yang membuat saya langsung ambil keputusan untuk pergi ke KL. Saya pikir,
itulah saat yang tepat saya harus bertemu dengan Den.

Banyak kejadian
menarik selama kami di KL. Mulai dari dialek yang lucu dan susah dipahami, ketinggalan
bus gara-gara Irin dan Sika lelet setengah mati (dasar!!), sampai kejadian hampir
berseteru sama preman di Kota Raya. Yang terakhir ceritanya begini, siang itu kami
sudah check out dari Hotel. Karena taxi carteran datangnya jam 4 sore sesuai
janji, maka kami putuskan untuk jalan-jalan dulu. Den mengusulkan ke tengah kota, ke Kota Raya, karena ada small things yang harus dibeli, dan menurutnya di tempat itu lebih
mudah didapat.

Turun dari taxi, kami menyeberang ke
Kota Raya. Rencananya mau lunch dulu,
karena sudah kelaparan. Food Court ada di lt.v jadi kami naik lift dari
samping. Kota Raya itu seperti Pasar Sentral lah kalau di Medan, feeling
saya sudah mengatakan ini tempat sarang preman dan banyak copet. Saya
bilang pada Den, kayaknya saya salah kostum nih datang ke KR, soalnya banyak
mata-mata liar begitu.

Ketika pintu lift terbuka, dan kami
keluar, kami sudah dihadang oleh dua lelaki pendek. Saya waktu itu jalan di
depan, melihat-lihat situasi. Saya lihat, kok tempatnya ini crowded banget, wajah kok wajah-wajah
penghuni Tanjung Gusta ya…. (kekekekeke..).

“Eh….. apa ini??” Saya
langsung menoleh kaget. Saya lihat Irin sedang menarik Sika. Salah satu lelaki
pendek tadi ternyata mencoba berbuat yang tidak-tidak pada Sika, dan Irin
langsung menjerit karena panik. Sementara Den agak shock juga. Jantung saya kontan berdebar-debar. Ini gak beres nih, pikir
saya.

Kami jalan ke dalam dengan was-was. Rasanya
seperti masuk ke sarang penyamun, karena berpuluh-puluh pasang mata memandang penuh
nafsu. Brengsek abis dah!! Rasa lapar yang tadi terasa hilang seketika. Diganti
jadi rasa panik, tidak nyaman, takut, marah.  *Anger Mode*

Saya rasanya mau marah. Sempat saya
dongkol ke Den karena telah mengajak kami ke tempat seperti itu (maaf ya den sayang… :) ). Masalahnya kami merasa sama sekali tidak aman, dan saya juga tidak mau ada
masalah di negeri orang.

Saya bilang ke Irin, “Jangan
sampai kita masuk penjara di sini ya Rin, gara-gara berkelahi sama preman. Kupukulkan
juga preman bodat itu.”

Tidak sampai lima menit, akhirnya kami mengambil keputusan untuk
turun. Tidak jadi makan disitu. Kembali ke BB Plaza. Ketika akan berjalan
kembali menuju lift, ternyata Si Pendek tadi dari tadi mengikuti Sika dari
belakang. Kami berjalan cepat menuju lift dan Sika langsung mencari aman dengan
berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang sedang menunggu lift. Saya berdiri agak
jauh dari lift sambil mendekap tas. Irin dan Den berdiri juga dekat Sika.

Si Pendek datang mendekati saya. Tangannya
memegang gelas berisi minuman. Dia berbicara sesuatu pada saya, tapi saya tidak
mendengar. Tercium bau minuman keras ketika dia berbicara. Saya angkat tangan
kanan saya menyuruh dia pergi. Dia sempat mengangkat gelasnya. Sejurus saya
mengira dia akan menyiram saya dengan gelasnya, dan saya sudah pasrah dan nekat.

    Okelah, kalau harus berantem disini juga,
ayoklah. Gw ladenin. Semalam di penjara Malaysia, apa boleh buat.
Asalkan dia gak bawa senjata tajam aja di balik
jeans nya itu. Kalau sampai iya, bukan cuma belanjaan Vincci aja yang gak
kembali ke Medan, tapi mungkin saya juga.

Untung kemudian lift
terbuka, dan kami langsung masuk. Ia terlihat ragu, apakah akan ikut masuk atau
tidak. Tapi cepat-cepat saya pencet “close” agar kami lebih tenang di dalam
lift. Bayangkan! Satpam saja tidak ada disitu. Betul-betul kayak sarang preman di
lt.v itu.

 
Kami berlalu naik taxi
ke BB Plaza dengan wajah ditekuk. Masih marah dan tersinggung dengan kejadian
tadi. Tidak disangka-sangka akan ada kejadian begitu, di saat kami sudah harus
pulang. Den tidak banyak bicara, ia merasa sangat bersalah karena telah
mengajak kami kesana. Tidak masalah sebenarnya, karena Den juga tidak menduga
kalau akan ada kejadian seperti tadi. Tapi intinya, yang kami butuhkan saat itu
hanyalah tempat dingin, makanan dan minuman segar agar bisa cooling down.

Yeah, setelah makan dan minum serta menghabiskan ringgit yang tersisa untuk beli-beli barang gak jelas, akhirnya rasa dongkol itu mereda juga.

Yeah…………

Finally, kami semua
selamat juga sampai di Medan. Capek, ngantuk….

Next time kalau ke KL
lagi untuk kesekian kalinya, untuk para cewek mungkin sebaiknya pikir2 dulu seribu kali
kalau mau main ke Kota Raya. He … he …

 

Tiga aja dulu..

June 29th, 2006 by zizy

Ini daftar nya :
1. ……… (psst… psst…)
2. ……… (psst… psst…)
3. ……… (psst… psst…)

"How much?"
                    *suara kresek2 kertas bon*
"Hmm. Okay. Deal. Yakin berhasil nih?"
"Dijamin."
"Garansi uang kembali ga?"
"Gak."
"Halaqh… jadi?"
"Dijamin berhasil."
"Okelah !"

Mudah-mudahan memang bekerja dengan baik. Untuk yang termasuk dalam daftar itu, let see…….

Missing Action On Stage..!!

April 17th, 2006 by zizy

Suatu waktu, saya tidak sengaja memilih 1990 Rock Station di Yahoo Station. Ketika lagu-lagu jaman 90-an diputar, saya langsung tersentak! Ya ampun….! Ini kan lagu gue….

They’ve turning Elastica. How can be? 5 minutes later….. It’s turned to Garbage, Androginy. I feel like i got a new fresh spirit to work. Singing by myself and flashback the memory. Lanjut lagi ke Stone Temple Pilots…… ……. ………and more and more…

I really missed that time. When I was action on stage with my band, about maybe 7 years ago ( !! ).  That’s d last time i’ve touch my Tele.
*A very longhair, using a silver necklage, gothic make up,  boot shoes,   belel jeans, tattoo on hands…. hahahahaha !
On air in radio station, staging — almost every week, underground community, indie label, the fans….. etc *Courtney_love_hole

Elastica, remind me of our first time audition. Hole, Garbage, Meredith, Foo Fighters, that’s our fave song when we caught up on stage with all male bands. L7, was my influence for gothic looks. Linda Perry, is my influence for making a good song and else…

I really missed that time. Really missed.

GARBAGE LYRICS

"I Think I’m Paranoid"

You can look, but you can’t touch
I don’t think I like you much
Heaven knows what a girl can do
Heaven knows what you’ve got to prove

I think I’m paranoid
And complicated
I think I’m paranoid
Manipulate it

[Chorus:]
Bend me, break me
Anyway you need me
All I want is you
Bend me, break me
Breaking down is easy
All I want is you

I fall down just to give you a thrill
Prop me up with another pill
If I should fail, if I should fold
I nailed my faith to the sticking pole

I think I’m paranoid
Manipulate it
I think I’m paranoid
And complicated

[Chorus:]
Paranoid
I think I’m paranoid

[Chorus:]
Steal me, deal me, anyway you heal me
Maim me, tame me, you can never change me
Love me, like me, come ahead and fight me
Please me, tease me, go ahead and leave me

Bend me
Break me
Anyway you need me
As long as I want you baby it’s all right

Bend me
Break me
Any way you need me
As long as I want you baby it’s all right.

Umroh. Day 9, 16 Apr 2006

April 17th, 2006 by zizy

Day 9, 16 Apr 2006

 

Saudi Arabia
Airlines mendarat di Jakarta pukul 12.35 wib. Jam 13.45, setelah semua koper
keluar, kami langsung ke bagian keberangkatan. Rasanya sudah tidak sabar
kembali ke Medan untuk makan makanan rumah. Di bandara saya langsung minum teh
kotak sosro saking rindunya. Lalu kami semua menunggu waktu boarding di Garuda Executive Lounge.
Lounge nya jauh lebih bagus dari Citibank kemarin, jenis makanannya lebih banyak,
belum kue-kue dan minuman. Kemudian musholla juga bersih, wangi, teratur dengan
handuk-handuk kecil. Toiletnya juga dilengkapi shower dan handuk bila ingin
berbilas. Persis kayak di hotel.

 

 

Pukul 15.45 kami ber-enam
(saya, abang saya & istri, ibu dan ayah saya, serta saudara saya) terbang
kembali ke Medan.

 

…………..

Dalam mimpi saya
tadi malam ketika sudah sampai di rumah, saya bermimpi berada kembali di
Masjidil Haram.
J sama seperti ketika saya ada di Haram,
yang saya impikan cuma Haram, tidak ada yang lain…………………..