IRIANKU TERCINTA
Thursday, December 15th, 2005Berita Kelaparan yang melanda Kabupaten Yahukimo, Papua (saya lebih suka menyebutnya Irian) yang memakan korban jiwa sungguh membuat hati saya sangat terenyuh. Bagaimana tidak? Kecintaan saya pada Irian, pada pulau Biak dan kota Wamena membuat saya tak sanggup menahan air mata ketika menonton berita tersebut di tv. Saya merasa kembali ke kenangan masa kanak-kanak saya saat saya dan abang saya selalu menghabiskan masa liburan saya di Wamena (saat itu ayah saya ditugaskan di Wamena selama 2thn, sementara ibu, abang dan saya tetap tinggal di Biak).
Saya juga baca di internet kalau, bencana kelaparan itu terjadi di pegunungan yang memang dingin, kering, dan kurang subur. Akses jalan tidak ada. Bahkan kawasan tersebut sulit dijangkau dengan berjalan kaki (kalau yang jalan orang luar ya tentu saja sulit dijangkau – ed) karena dikelilingi jurang terjal dengan dinding-dinding pegunungan yang tinggi. Kemudian, hujan lebat terus turun sehingga tanaman umbi-umbian, makanan pokok penduduk Papua pedalaman, rusak dan timbullah bencana kelaparan yang menelan korban jiwa itu. Mereka tidak makan sampai 3-5 hari dan hanya minum air hujan.
Bahkan sampai saat saya menulis ini pun, belum ada berita pasti, apakah semua bantuan yang diberikan oleh pemerintah sudah sampai pada mereka.
Saya lihat di tv, wajah-wajah polos yang penuh harap ketika sebuah pesawat kecil mendarat di tengah lapangan, berharap bahwa di dalam pesawat itu ada bala bantuan buat mereka. Dan ketika tangan-tangan berkulit gelap dan kuat —- yang selama ini digunakan untuk bertani tentu —- itu menjulur-julur ke dalam pesawat, menawarkan hasil tani mereka, ya Allah…. Engkau yang tahu betapa mata dan hati saya menangis melihat itu. Hampir dua puluh tahun sudah saya meninggalkan Irian Jaya, namun kenapa saudara-saudara saya di sana masih juga belum dapat meningkatkan taraf hidup mereka? Dan kenapa malah menjadi lebih buruk?
Sedikit cerita tentang Wamena. Saya ingat, ingat betul, bahwa memang pekerjaan yang dapat mereka lakukan hanyalah menjual hasil tani mereka. Tahun 1986, saat itu harga setumpuk wortel — yang kalau dikilo mungkin sekitar 1-2kg—mereka jual dengan harga Rp.100. Padahal di Biak, Rp.100 itu hanya dapat 1 permen karet!! Tidak heran guru SD saya menitipkan uang pada saya agar dibelikan sayur-mayur dari Wamena, dan dengan Rp.2000 yang diberikannya, saya membawa pulang satu karung (ukuran 20kg beras) berisi wortel, kol, tomat, sledri, dll ke Biak. Penduduk di wamena saat itu hanya mengenal uang Rp.100 dan Rp.500. Yang harganya mahal di Wamena saat itu adalah daging unggas karena memang ketersediaannya sangat terbatas.
Saya juga pernah ditantang ayah saya berenang di bawah air terjun. Dinginnya seperti air es! Sementara sekali terjun saja saya langsung menggigil, dua teman saya –– penduduk asli Wamena — sampai berkali-kali terjun ke dalam air. Gila!
Sebagian besar penduduk asli di Wamena juga tidak menetap di Wamena. Mereka tinggal di pegunungan yang harus ditempuh seharian dengan berjalan kaki. Teman bermain kami (saya & abang saya), Stevi pernah saya tanya dimana rumahnya. Dia menjawab sambil menunjuk ke arah gunung-gunung di kejauhan, kalau dia harus berangkat subuh dari Wamena dan tiba di kampungnya pada sore menjelang malam hari, dengan berjalan kaki! Dia dan penduduk lainnya turun ke Wamena untuk mencari uang dengan menjual hasil tani atau melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, seperti jadi kuli koper di bandara. Stevi salah satu pekerja di rumah ayah saya di Wamena, yang sekaligus menemani kami bermain. Ia sebaya dengan kami. Ia mengajak kami berkeliling kota Wamena, mulai dari menyeberang kali yang jembatannya sudah reyot, sampai menangkap ikan-ikan air tawar di kolam lumpur belakang rumah. Dari dia juga kami diajarkan agar tidak sembarangan menginjakkan kaki ke kali (sungai berlumpur di wamena), karena walaupun masih di pinggir, tapi kedalaman airnya lumayan.
Masih banyak kenangan manis saya tentang Wamena. Mulai dari ketika saya tersesat karena berjalan sendiri, sampai ketika perang suku terjadi. Saat perang suku itu terjadi, saya memang tidak berada di Wamena, ayah saya yang bercerita kalau mobil dinas nya dipakai untuk mengangkut mayat-mayat korban. Tragis.
Satu hal yang tidak bisa saya lupakan mungkin adalah, betapa penduduk di sana sangat lugu dan polos. Perlakuan kasar dan semena-mena oleh orang luar (non papua) mereka terima seakaan-akan itu hal yang wajar buat mereka. Sungguh saya tidak terima dengan hal demikian. Saya yakin meskipun mereka terbelakang dalam beberapa hal, tapi sangat tidak manusiawi jika mereka diperlakukan demikian.
Kemarin sore, setelah menonton berita Bencana tersebut, saya berdoa kepada Tuhan. Saya minta agar saya diberikan rejeki yang cukup oleh-Nya agar saya dapat membantu saudara-sauadra saya di Irian. Tidak perlu saya dengarkan janji-janji pemerintah atau juga alasan-alasan dari pejabat Pemprov Papua, semua hanya tahu bicara. Saya ingin saya diberikan waktu dan rejeki yang cukup agar saya bisa membantu mereka sendiri. Ya Allah, saya berdoaa kepada Mu ya Allah, selamatkanlah saudara-saudaraku di Irian sana.. Amin.