Umroh. Day 2, 9 Apr 2006 :
Day 2, 9 Apr 2006 :
Jam 10. pagi, kami
langsung menuju Mekah bersama Khaidar, guide kami dan Aiman, sopir Arab. Di perjalanan, udara agak mendung. Kata Khaidar, di
Mekah hujan turun 1tahun sekali, dan kemarin (tgl 8 mksdnya), turun hujan di
Mekah!
Sekitar jam 11.15
tibalah kami di Mekah. Langsung cek in di Elaf Kinda, karena kami mau langsung
thawaf, mengejar waktu sebelum dzuhur. Di jalan depan hotel dan Plz. Hilton,
banyak pengemis kulit hitam yang duduk di tanah meminta-minta. Rata-rata dari
mereka cacat, ada yang tangannya putus, atau kakinya. Anak-anak kecil, juga ada
remaja tanggung. Perempuan & laki-laki.
Ketika melihat
Masjidil Haram untuk pertama kali rasanya takjub bukan main. Bangunan itu
begitu megah, mewah, bersih, ya…. singkatnya luar biasa. Kemudian ketika kaki
menginjak bagian luar mesjid, kemudian melangkah masuk ke dalam mesjid —
setelah melalui pemeriksaan kamera & ll —- terlihatlah Ka’bah. Ka’bah
yang tidak pernah sepi oleh umat Islam yang ber-thawaf.
Putaran ke-1
………….
Putaran ke-2
………….
Putaran ke-3
………….
Ketika akan melakukan putaran ke-4, dua
orang polisi Arab mengusir kami ke pinggir. Sempat bertanya-tanya dan sedikit panik, ada apakah,
namun kemudian kami tahu jawabannya. Sudah dekat ba’da dzuhur, jadi wanita
tidak boleh lagi berada di area Ka’bah karena para lelaki akan sholat di situ.
Maka pindahlah kami para wanita ke bagian dalam mesjid, ke tempat para wanita
seharusnya berada. Selesai sholat dzuhur, kami pun berkumpul kembali di tempat
semula dan melanjutkan thawaf yang tertunda. Pas ketika kami akan sholat sunat
di belakang makam Nabi Ibrahim, hujan turun rintik-rintik. Oh iya, lantai marmer
di Masjidil Haram itu terbuat dari marmer terbaik, rasanya di telapak kaki
tetap dingin meskipun panas terik membakar di kepala.
Kemudian
dilanjutkan dengan Sa’i………………dan kemudian memotong rambut. Lumayan
pegel juga di telapak kaki, meskipun lantai tempat Sa’i itu pakai marmer yang
halus.
Ingin rasanya
berfoto di dekat Ka’Bah, tapi jelas sekali itu tidak mungkin. Untuk alasan
keamanan, kamera tidak diperkenankan masuk (kecuali hp kamera, entah kenapa
tidak diperiksa, sehingga hp saya lolos). Akhirnya saya foto sedapatnya saja dengan kamera, jadi hasilnya juga fotonya miring.
Setelah umroh
selesai, saya dan keluarga langsung balik ke hotel. Menyerbu makan siang. Pihak
travel menyediakan cathering masakan Indonesia. Tiap kamar juga dibekali teh,
kopi, susu, ovaltine, gula, lusinan gelas & sendok plastik, juga roti &
selai kacang. Saya sempat mencoba KFC di Plz Hilton, yang antrian di kasir untuk pria &
wanitanya dibuat pembatas (begitu juga di resto-resto lainnya). Potongan ayamnya
gede-gede loh. Ayam arab! Hehehe…..
Siang sampai sore,
istirahat di kamar, dan juga sholat wajib dan sunat di mesjid. Rasanya sayang bila tidak dimanfaatkan dengan baik, sebab kita disana cuma beberapa hari.
Di samping itu, setiap habis sholat subuh dan insya, jalan raya depan Plz. Hiton, tempat jemaah keluar dari Masjid, penuh dengan pedagang kagetan. Mulai dari jualan baju/abaya, tasbih, pernak-pernik, dan juga minyak onta. Toko makanan di sisi luar Plz. Hilton juga sudah buka sejak subuh, karena biasanya langsung ramai diserbu pelanggan. Saya sempat mencoba kebab, harganya SR.3. Boleh juga rasanya.

June 17th, 2006 at 7:53 am
zy…ternyata umroh itu menyenangkan dan selalu mengundang keinginan untuk kembali dan kembali lagi. Mdh2an setelah umroh kamu dpt berkah yang sebelumnya gak pernah kamu terima dan bayangkan yah….keep survive for ur life….cheers