Umroh. Day 3, 10 Apr 2006

Day 3, 10 Apr 2006

 

Setelah sarapan di resto, kami langsung city tour.
Pertama kali rutenya ke Jabal Shor (lupa saya Thor atau Shor yaa…), tempat  Rasul dan sahabatnya dulu bersembunyi saat berperang.  Disini, ada juga seorang pria paruh baya Arab yang mengemis.  Kakinya buntung. Dsc01988




Lalu perjalanan dilanjutkan ke Arafah,
dan bis kami akhirnya berhenti di Jabal Rahmah. Sempat mendaki ke atas, melalui tangga-tangga batu yg sudah ada. Dsc01996 Lumayan tinggi juga,
walaupun tidak setinggi Gua Heraa. Di jabal rahmah, pedagang kaki limanya juga
banyak sekali yang berkulit hitam. Rata-rata mereka lumayan bisa berbahasa
Indonesia yang gampang-gampang, seperti harga. Tapi ada juga yang kasar, jadi
harus berhati-hati sama mereka. Kalau tidak mau, langsung tolak saja. Seorang
bapak asal Indonesia, saya lihat diminta uang paksa oleh tukang foto polaroid,
karena tidak mau membayar foto sesuai harga yang diminta. Si bapak hanya mau
bayar SR.2 sementara, patokan si tukang foto SR.5. Akhirnya si kulit hitam juga
yang menang, karena si bapak tadi tentunya tidak mau cari masalah di negeri
orang. Saya juga mencoba naik unta. Unta
ini memang hewan yang unik banget. Cara dia berdiri dan duduk itu,
naik turun seperti ombak. Begitu berada di atas unta, woww…. tinggi banget.

Lalu perjalanan
dilanjutkan ke Jabal Nur, dan ke Gua Heraa. Di parkir, dari dalam bis, kami
melihat ada titik-titik putih bergerak pelan di kejauhan. Ternyata itu orang
yang mendaki ke atas untuk mencapai Gua Heraa! Kami memilih untuk tidak mendaki, karena
untuk naik ke atas, makan waktu 1-2jam.

Di kanan kiri jalan
yang rata-rata padang pasir, unta-unta dan domba banyakkkk sekali. Juga
rumah-rumah batu di tengah-tengah padang pasir. Kata Khaidar, itu adalah rumah
orang2 suku Badui, yang memang suka sekali tinggal di padang pasir dan gunung. Terlihat
sekilas dari jauh, memang seperti rumah-rumah biasa, namun sebenarnya suku-suku badui itu cukup kaya. Mereka
punya banyak tanah, mobil dan bis untuk usaha travel, dan juga ternak.

 

Dalam perjalanan
kembali ke Haram, kami menyempatkan diri ziarah ke makam Opung saya yang wafat di Mekah ketika berhaji pada tahun 1986. Lalu kami juga melewati
Mesjid Jin dan Mesjid Rayah (atau Mesjid Kucing). Juga melewati rumah dimana
Nabi Muhammad SAW dilahirkan, yang sekarang sudah berubah jadi perpustakaan.


Tiba di Haram, kami
melakukan thawaf sunnat lagi. Saya berhasil mencium Aswatu Aswad, walaupun
setengah mati berdorong-dorongan dengan wanita-wanita Arab yang bodinya
gede-gede.. he he he.


Setelah dzuhur dan
makan siang, saya beristirahat sebentar sebelum kemudian keliling
melihat-lihat. Di Masjidil Haram, setiap saat lantainya selalu di-pel. Tidak
ada yang namanya genangan air atau becek-becek bekas kaki di lantainya. Semua
bersih! Tempat wudhunya yang berada di luar, sebelum pintu utama, sampai 3
lantai ke bawah (basement). Sementara di luar mesjid, merpati-merpati beterbangan atau sibuk makan di tanah. Indah sekali. Kalau ingin memberi makan merpati, gampang saja. Makanannya dijual disitu juga, oleh wanita-wanita kulit hitam.

Leave a Reply