Umroh. Day 5, 12 Apr 2006

Day 5, 12 Apr 2006

Pada hari kelima,
kami meninggalkan Mekah, untuk menuju ke Madinah. Setelah sarapan pagi (ala
Indonesia juga), kami melaksanakan Thawaf Wadah (thawaf untuk pamit
meninggalkan Haram), tetap sebanyak 7x putaran. Sekali lagi saya berhasil
mencium Aswatu Aswad, juga (lagi-lagi) setelah terombang-ambing oleh dorongan
wanita-wanita Arab yang besar.
:)

 

Jam 2 siang, kami
tiba di Bandara di Jeddah, dan memilih makan siang di sebuah kafetaria di situ.
Makan kentang goreng, big chicken nugget (big ya…!), dan sepotong besar kue,
itulah kira-kira paketnya. Ada juga pizza kalau mau. Benar-benar makan besar. Namun sebelumnya, kami sempat berkeliling kota Jeddah, melihat Mesjid Terapung, serta bangunan istana raja-raja.

 

Pesawat kami tiba
di Madinah jam 7malam. Penerbangan ke Madinah tidak begitu bagus, sepertinya
selalu ada gangguan cuaca setiap berada di atas. Pesawat bergoyang-goyang, lalu
tenang kembali, lalu goyang lagi. Tapi mungkin juga saat itu memang cuaca lagi
jelek ya.

 

Kami menginap di
Oberoi Medina, Madinahyang jaraknya hanya 10m dari halaman Masjid Nabawi. Tinggal
turun ke “G”, keluar, jalan sebentar, dan langsung masuk ke halaman Masjid.
Sebelumnya waktu di Mekah, Elaf Kinda itu kira-kira 80m dari halaman Masjidil
Haram. Jadi waktu hari pertama di Mekah, saya dan ipar saya terlambat bangun
sore, sehingga lari-lari agar tidak ketinggalan maghrib berjamaah di dalam mesjid. :D

 

Dsc02074

Malam pertama di Madinah,
saya dan ipar saya telat bangun lagi karena kecapekan. Kami lari-lari ke mesjid
(untung dekat) dan dapat tempat di luar mesjid. Begitu pula saat isya, ketika melihat antrian di pintu masuk begitu ramai dan berdesakan, kami
putuskan untuk di luar saja. Masjid Nabawi
berbeda dengan Masjidil Haram. Disini ruang sholat bagi tempat wanita dan pria betul-betul terpisah, sehingga jemaah wanita tidak bisa melihat pria sama sekali, bahkan
imam-nya juga tidak terlihat. Sementara kalau di Haram, terbuka 24jam dan semua
bisa masuk (karena di Haram kan ada Ka’Bah). Di Haram, untuk batas wanita hanya disekat oleh dinding/rak bambu saja. Jadi
Ka’bah atau imam masih bisa terlihat (kalau dapat posisi yang bagus tentunya).

Leave a Reply