Umroh. Day 6, 13 Apr 2006

Day 6, 13 Apr 2006

 

Menurut rencana,
pada hari Kamis ini kami akan dibawa oleh Ma’ruf (pemandu kami di Madinah)
untuk city tour ke tempat-tempat
bersejarah di Madinah. Karena itu pada pukul 7 pagi kami diminta berkumpul di G
karena harus ke roudah, untuk sholat sunnat disana.

 

Karena telat, kami
para wanita berkumpul di bawah jam 7.30, sehingga antrian untuk masuk roudah
sudah panjang. Ditemani oleh Mbak Ria (wanita Indonesia yang tinggal di
Madinah), kami diantar masuk ke roudah.

 

Tapi sebelumnya, di
pintu masuk Masjid Nabawi, seperti biasa kami diperiksa. Dan kemudian, hp
kamera saya ketangkap (sebenarnya bukan saya sengaja bawa lho… cuma jaga-jaga
kalau ada sms penting dari kantor. :D ), langsung saja saya tidak diperbolehkan
masuk. Memang waktu subuh saya saya sholat di dalam, tapi karena masih pagi tentu saya
tidak membawa tas atau hp, makanya aman saja masuk. Lagipula saya mengira mereka hanya akan memeriksa kamera saja, seperti waktu di Haram.
 

Perempuan bercadar
itu mengatakan sesuatu pada saya dalam bahasa Arab sambil menunjuk ke arah luar.
Saya sudah mau beranjak, ketika Mbak Ria keluar kembali, dan ternyata
yang dimaksud wanita Arab tadi adalah locker
yang terdapat di dekat pintu masuk. Bergegas saya kesana, masuk dan meminta locker pada cowok penjaga. Ia meminta SR.1 pada saya untuk biaya perjam. Lalu HP saya masukkan kedalam locker, kemudian si petugas memasukkan selembar uang SR.1 saya, menekan tombol merah, dan keluarlah sebuah kunci
plastik bulat yang saya simpan sendiri. Canggih juga! Belum ada yang kayak gitu
kayaknya di Medan. Mesin Pepsi otomatis aja kayaknya gak jalan deh… hihihi…

 

Usaha untuk dapat
masuk ke roudah dan berdoa disana ternyata jauh lebih sulit dari ketika saya
kemarin akan mencium Hajar Aswad. Disini semua saling dorong-dorongan. Saya
bahkan sempat menabrak seseorang yang sedang sholat. Soalnya kami semua ingin
ke depan, sementara banyak jemaah yang akhirnya sholat saja di tempat yang
memungkinkan, meskipun sempit dan terjepit. Seperti juga ipar saya, sehingga
saya jadi pagar bodi menahan dorongan ibu-ibu Arab agar dia tidak terinjak.
Tapi akhirnya saya, ibu saya, dan juga bou saja berhasil sampai ke depan. Tidak
lama waktu untuk sholat karena antrian banyak sekali. Ada seorang ibu asal Indo
yang berdoa terlalu lama sehingga si penjaga bercadar sedikit jengkel. Ia minta
tolong pada Mbak Ria agar bilang ke ibu itu, jangan terlalu lama berdoa…masih
banyak yang mau berdoa juga disitu.

Yeah, mungkin
sedikit kekacauan dan ketidaksabaran itu karena kalau di Hajar Aswad kami hanya
menyentuh dan mencium jadi setelah selesai langsung cabut, sementara disini
harus berdoa yang makan waktu sedikit lebih lama.
 

Setelah itu kami langsung City tour, pertama kali adalah ke Masjid Quba. Ruang sholat disini juga sama dengan di Nabawi, wanita dan pria tidak bisa saling melihat. Halamannya dijejeri pohon-pohon kurma yang sudah agak tua. Tukang jualan juga banyak. "Hajjah..! Duabelas, sepuluh reyal." kata si Ibu tua bercadar yang berjualan. Saudara saya langsung dikerubuti oleh gerombolan ibu-ibu itu, soalnya dia memborong hampir semua tasbih dan kalung. "Untuk oleh-oleh di Siantar," begitu katanya.   Pohon_kurma

Kemudian kami ke Jabal Uhud, tempat rasul dan para sahabat dulu berperang. Lalu kami melewati Masjid Kiblat, lalu………….
zzzz….zzzzz….. saya tertidur di bis saking ngantuknya.

Tiba di pasar kurma,
saya terbangun. Semua penumpang langsung turun, seperti biasa kalau sudah lihat bakal oleh-oleh…

Kakek penjual mempersilahkan kami mencicipi semua kurma dan coklatnya.
“Halal…” maksudnya kita boleh makan, tidak usah takut diminta bayar untuk
yang dimakan itu.

 

Beli kurma rasul
(yang harganya berkali-kali lipat harga kurma biasa…), kemudian kacang arab,
dan juga coklat (ada coklat isi kurma). Semua di-packing langsung di tempat. 

 

Image482

Dari situ kami
kembali ke hotel. Makan siang di hotel.
Selanjutnya acara bebas. Jadi seperti biasa, selain sholat
wajib dan sunnatnya, disela-sela itu saya sempatkan keliling-keliling pertokoan
di kompleks Oberoi. Cuci mata lihat-lihat mas… slurrppp!! Lalu minum frappuchino di Starbucks.Starbucks_madinah3

 

Secara umum, orang
Arab di Madinah lebih welcome daripada
Arab di Haram. Mereka lebih ramah, apalagi memang penduduk Indonesia terkenal
paling konsumtif dan suka belanja. Dan rata-rata pedagang di sana bisa bahasa
Indonesia. Mulai dari pedagang keliling, “Haji. Ini, mnginyak onta…
bagus…satu reyal.” Atau tukang mas berkulit hitam di toko mas. Setiap saya
tawar harga masnya langsung geleng-geleng kepala kayak kapok. “Gak. Gak.” Gitu
katanya. Saya dan ayah saya sampai ketawa-ketawa gara-gara si Ahmad itu (namanya).

Leave a Reply