Umroh. Day 7, 14 Apr 2006
Day 7, 14 Apr 2006
Hari Jumat adalah
hari libur nasional di Arab. Tidak semua toko buka. Dan ketika akan sholat
Jumat, tempat untuk wanita itu full
!! Untunglah saya dan ipar saya cepat bergerak sehingga dapat tempat, itu juga
di lantai, bukan di karpet. (Oh iya, ibu dan bou saya memang sering terpisah
dari kami, karena mereka tidur di suite
yang berbeda dari kami, anak-anak muda…. cieee, anak muda…). Ketika kami
keluar, ternyata di halaman juga penuh. Pantas saja semua memaksa untuk duduk
di jalan-jalan, biarpun diusir-usir dengan suara kenceng ( !!) oleh perempuan2
bercadar. Rata-rata semua perempuan Arab membawa anak-anaknya, jadi saat kita
sholat, ada tangisan bayi yang sahut menyahut. Tidak bermaksud mengurangi makna
ibadah di Nabawi ya, tapi suasana khusuk jauh lebih terasa ketika saya di Haram.
Begitu pula yang dirasakan oleh ipar saya, ibu dan bou saya. Sementara kaum
bapak sih tidak masalah, tempat mereka sholat jauh lebih luas dari tempat untuk
para ibu.
Sambil menunggu jam
3 untuk check out untuk kembali ke Jeddah, saya dan ipar saya keliling lagi
lihat-lihat. Selendang di sana bagus-bagus, belum lagi sejadahnya. Motifnya
motif baru. Saya sampai bolak-balik naik turun karena mencari selendang dan
jilbab lagi buat ibu dan bou saya. Terus keliling juga cari poster besar
titipan teman kantor saya. Sempat ditakut-takutin sama abang saya, katanya
tidak diizinkan dibawa naek pesawat. Tapi saya coba saja, ternyata tidak tuh! Dasar
usil. Dia memang paling malas kalau disuruh nemenin, ngomel aja kalo udah lama
dikit. Akhirnya saya berdua ipar saya saja yang pergi.
Jam 18.20 kami
terbang kembali ke Jeddah — lagi-lagi dengan pesawat goyang-goyang. Banyak
awan ternyata. Sampai di Jeddah jam 19. dijemput oleh Khaidar dan seorang
temannya, mahasiswa asal Banten. Kami berencana langsung ke Red Sea Palace
(tempat menginap ketika pertama x datang), tapi kemudian diputuskan untuk makan
tomyam dulu. Kami semua sudah ngiler-ngiler, sebab selama di Oberoi Madina,
kami makan di resto nya yang menyajikan makanan yang kental dengan bumbu Arab
(karena memang sebagian besar tamu adl orang Arab, org Indo hanya saya &
keluarga saja). Saya sampai kehilangan selera karena tidak menemukan makanan
yang rasanya pas di lidah. Ayam dan ikan, dimasak dengan kari, tapi rasanya
aneh. Beef steak nya bolehlah, agak
lumayan. Nasinya nasi britani (alamak…!!). “Wah! Ada nugget…!” pekik saya
girang. Tahu-tahu ketika digigit, nuggetnya manis, isi jagung pula. Udang
goreng mentega (eh gak tahulah, mentega atau apa itu), rasanya juga aneh. Telur
orak-ariknya basah banget.
Jadilah saya makan
telur rebus (kalo lagi ada) atau roti bulat tawar dengan mentega. Lebih aman.
He he he ….
Tapi, ketika sudah
menunggu 1 jam (karena hari itu kan Jumat, hari libur sehingga banyak keluarga
yang makan di resto itu) sesuai kata si resepsionis restonya, ayah saya sudah
curiga. Kok lama banget. Ketika dicek kedalam sama abang saya, ternyata pesanan
kami sama sekali belum disiapkan. Malah ada satu keluarga Arab yang datang
belakangan didahulukan. Mau marah rasanya — tersinggung karena seakan-akan
kita tidak bisa bayar, namun makela saya (bpk.Bismar Siregar) mengingatkan kita
semua untuk bersabar dan menerima ini sebagai cobaan.
Driver kami, Aiman
— si Arab preman, bilang ke Khaidar, kenapa gak bilang ke dia, biar dia
labrak ke dalam. Hahaha…. si Aiman ini memang gila lho. Nanti di jalan kalau
ada pengendara lain yang salah (at least menurut dia), pasti mereka saling
memaki dengan semua nama hewan.
Tapi memang
begitulah adat orang Arab. Mereka kurang respek dengan ras lain, termasuk pula
orang Indonesia, apalagi wanita Indonesia.
Ya sudah, akhirnya
kita makan di hotel saja. Lagi-lagi makanan tak jelas. Hiks…!