BAGASI HILANG di Lion Air
Sunday, November 26th, 2006
Kualitas
maskapai penerbangan Indo memang parah. Saya mengalaminya lagi ketika terbang
bersama rekan saya Kamis 23 Nov lalu.
Diawali
dengan pemberitahuan training yang mendadak, kami jadi terburu-buru
menyelesaikan semua kerjaan karena harus berangkat saat siang. Dan karena
mendadak itulah, kami tidak mendapat seat Garuda — bahkan sampai hari
minggu untuk kepulangan ke Medan — sehingga kami harus berangkat dengan dapat
Lion Air.
Kami tiba
di bandara pas jam 12, setelah saya ngebut & berhasil lewat dari razia
polisi — yang cari duit untuk makan siang (Hehee.. Untung banget bisa lolos,
soalnya sim saya sedang extended). Kami sudah di-check in kan seperti
biasa. Tapi karena saya dan rekan saya, Her ada bagasi, jadi kami mengantri
lagi di menit-menit terakhir. Saya mendapat nomor bagasi 32-31 & 32-32
untuk Her.
Saya
duduk di seat 18E, dan sebelah kanan saya ada ibu paruh baya. Beliau meminta
saya memasangkan safety bealt nya, karena ini penerbangan pertama baginya.
"Ada
bagasimu, dek?"
"Ada
buk.."
"Nanti
tolong bantu ya, sama-sama kita."
"Boleh
buk, gpp.."
Pesawat
Lion mendarat sangat mulus dan smooth (kali ini tidak ada kejadian pesawat
harus berputar kembali seperti GA187 mgg lalu hehe..). Saya memang suka
mencatat-catat, pesawat mana saja yang pilotnya bagus. Air Asia, Lion Air,
Batavia Air, biasanya mendarat mulus (eh, pernah sih AirAsia yang saya tumpangi
terguncang hebat tepat saat pesawat hampir menjejak aspal). Kalau pilot Garuda,
selalu saja ngebut kalau landing (ntah apa yang dikejar, kayak sopir angkot
aja..). Ya intinya hari itu kami tiba di Jakarta dengan selamat.
Turun
dari pesawat, hujan gerimis sehingga kami harus berjalan cepat ke gedung. Si
ibu mencolek saya.
"Dimana
bagasinya, dek?"
"Nanti
buk, ntar ambil bagasinya di dalam." Sahut saya. Bersama-sama kami masuk
dan menuju papan petunjuk Pengambilan Bagasi - Keluar.
Pelan-pelan
‘ban berjalan’ (saya tidak tahu nama tepatnya) meluncurkan koper-koper dan
barang bawaan lain milik penumpang. Her saya lihat sedang menjelaskan pada si
Ibu tadi bagaimana mengecek yang mana bagasinya. Sementara saya memelototi
satu-satu koper, mencari-cari yang mana milik saya.
Nah..!
Itu dia. Segera
saya tarik koper saya. Polo kotak-kotak ukuran sedang (sebenarnya ini punya
mami saya, saya minjem doang.. hehehe). Nomer bagasi saya cocokkan dan pas.
Saya berpaling pada Her, dan menanyakan kopernya.
"Koper
lu mana Her?"
"Iya
nih, belum keluar. Kok lama banget ya?!" Beberapa koper yang mirip-mirip
miliknya dibiarkan lewat. Soalnya memang ada banyak sekali koper yang mirip.
Merek POLO, ukuran sedang, warna biru tua.
"Lu
tanda kan sama koper lu? Ada tandanya gitu gak..?"
"Ada
sih, di koperku itu ada kayak kertas gitu kak sy, nempel, warna orens."
dia mulai terlihat panik.
Kerumunan
penumpang perlahan bubar, hanya tinggal 4-5 orang saja yang masih menunggu
barang bagasi. Sampai kemudian ada sebuah koper biru Polo yang masuk terakhir,
ukuran sedang, tapi berantakan. Gembung disana sini karena kepenuhan. Tapi saya
yakin, itu juga bukan milik Her. Tadi kan yang mengangkat ke timbangan bagasi
saya sendiri, jadi saya ingat bahwa bentuknya tidaklah seperti itu.
Tapi kami
pun tetap mencoba mencocokkan nomor di tangan dengan stiker di kopor. 31-19.
Tidak cocok. Muka Her langsung pucat, panik. Seorang petugas Lion Air yang
berjaga di dekat situ menghampiri kami dan meminta stiker kami. Untuk
dicocokkan dengan bagasi-bagasi di Lost and Found. Dugaan dia,
kemungkinan koper telah terkirim dengan pesawat yang berangkat lebih awal. Tapi
jelas tidak mungkin, karena kami saja check in nya belakangan.
Seorang
pegawai Lion bernama Meli, mempersilahkan kami menunggu di kantor L&F. Tak
lama petugas bagasi kembali dengan tangan kosong. Koper Her tidak ketemu juga,
bahkan ia sudah mengecek ke bagian transit siapa tahu terbawa kesana. Sampai
disini kami sepakat dengan dugaan bahwa ada penumpang yang telah salah
mengambil koper yang bukan miliknya. Tapi, kenapa dia bisa lolos dari
pemeriksaan di pintu keluar?! Biasanya petugas akan membandingkan stiker koper
dengan yang ditempel di boarding pass.
Her sudah
panik dan tidak tenang. Meli menyodorkan kertas rangkap 2 untuk diisi Her,
pernyataan kehilangan bagasi. Apa saja barang yang ada di dalam koper, alamat
serta nomor hp yang bisa dihubungi — termasuk juga nomor hp saya. Dia hanya
bisa memberikan solusi, mudah-mudahan orang yang salah ambil itu segera datang
mengembalikan.
Dia juga
mengakui bahwa sisdur Lion memang kurang profesional. Katanya,"Kita memang
tidak seperti Garuda mbak. Kalau di Garuda, nomor bagasi tercatat langsung
dengan boarding pass, sehingga bisa kita lacak penumpangnya. Tapi di sini beda,
bagasi tidak tercatat."
"Tapi
mbak, biasanya di depan kan diperiksa lagi? Masa sih, orang bisa lolos bawa
koper orang?"
"Iya
mbak. Cuma penumpang kan tadi rame ya, sementara petugas kami sedikit. Kami
minta maaf ya mbak, tapi segera mbak kami hubungi bila ada berita
terbaru."
"Mbak,
saya minta tolong banget ya Mbak, tolong dibantu karena ini penting sekali buat
saya." Her memelas.
"Iya
mbak, pasti. Sekarang kami akan coba investigasi dulu. Apapun hasilnya, saya
akan telepon mbak Her sebelum jam 9."
"Tolong
diusahakan ya mbak, tolong banget. Saya butuh soalnya."
Kami pun
berlalu dengan wajah cemas dan tidak tenang. Yang benar sajalah, kami tiba sore
hari saat Jakarta sedang macet-macetnya, lalu koper hilang sementara besoknya
pagi-pagi sekali kami sudah ada jadwal pelatihan. Naik taxi Gamya, kami diantar
ke hotel. Sepanjang perjalanan, Her menelepon ke teman-temannya dan curhat.
Sementara itu pak supir tetap ceria di tengah-tengah kemacetan. Ceritanya
selalu tidak jauh-jauh dari polisi, yang katanya suka nangkapin mobil-mobil
yang bandel di jalan inti.
Tiba di
hotel jam 19.15. Setelah cek in hotel, meletakkan koper di kamar dan menukar
sepatu dengan sneaker yang nyaman, saya menemani Her berbelanja baju ke
Sarinah. Tidak sempat bersih-bersih muka dulu, karena takut Sarinah keburu
tutup.
Malamnya,
jam 20.45, ketika kami sedang makan malam di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk yang
bersebelahan dengan Bakmie GM, hape saya berbunyi. Dari Lion Air, dengan Meli.
Karena
stres dan panik, Her bolak-balik menanyakan hal yang sama pada Meli, sementara
Meli harus menjelaskan lagi berkali-kali, dan berkali-kali pula telepon
terputus. Ternyata telepon kantornya pakai system timer untuk
bertelepon, gembel amat sih….
Akhirnya
saya menelepon balik ke Lion daripada terputus-putus terus dan pembicaraan jadi
tidak selesai-selesai.
“Mbak
Mel, bisa diulangi lagi? Jadi bagaimana statusnya?”
Ternyata
pihak Lion telah melakukan x-ray pada koper yang tertinggal itu, dan didalamnya
ada buku, dan ada serbuk. Mereka menduga mungkin telah terjadi kesalahan
penempelan stiker, dan bisa saja koper 31-19 itu memang milik Her.
“Ada serbuk seperti susu begitu, Mbak.”
“Duh
kayaknya teman saya gak bawa susu-susuan gitu deh Mbak.”
Tidak ada
kepastian. Pihak Lion Air hanya bisa berjanji akan terus melacak keberadaan
koper Her. Mereka hanya bisa menunggu hingga ada penumpang yang melapor.
"Duh Tuhan," Her
bolak-balik menarik napas panjang. "Kira-kira, itu dibalikin ga sih,
ya?"
"Kalau dia sadar itu bukan koper
dia, ya pasti dibalikin lah Her. Untuk apa dia koper orang?"
"Iya sih, tapi masa sih dia lama
banget sadarnya kalau dia salah?"
Malam itu
Her tidur tidak tenang, pikirannya melayang ke kopernya terus. Rasanya tidak
masuk akal, ada orang yang salah ambil koper tapi tidak sadar-sadar juga.
Besoknya,
di sela-sela training, Her menelepon lagi ke Lion Air. Masih tidak ada titik
terang. Saya suruh Her kasih saran ke pihak Lion, untuk menelepon satu-satu
pernumpang. Tapi Lion bilang, rata-rata penumpang ambil tiket dari travel jadi
mereka tidak punya datanya. Halah…..bilang aja mereka malas, apalagi
teleponnya ajaib, 3menit mati.
Sambil
duduk di sofa empuk di dalam toilet yang mewahnya minta ampun, Her menelepon
temannya. Sepertinya temannya menyalahkan Her.
"Gua
tuh gak salah. Enggak, kopernya bukan tertukar, gua bukan salah ambil, tapi
koper gua yang dibawa penumpang lain."
Sorenya,
sehabis training, kami ke Plz Semanggi, belanja baju lagi (ck ck ck…). Selain
baju, juga beli make up, alat-alat
mandi. Benar-benar hari pemborosan. Gara-gara kelalaian Lion, banyak biaya yang
tidak terduga yang harus dikeluarkan.
Yang
mengherankan, kalau memang koper itu tertukar atau salah ambil, kenapa belum
ada yang melapor? Dan kalau memang koper itu dicuri, seharusnya tidak ada koper
lebih yang sekarang teronggok di ruangan Lion.
Atau
koper 31-19 itu memang milik Her? Tapi hasil x-ray nya jelas meragukan, belum
lagi tidak ada kertas orens yang menurut Her menempel di koper itu. Saya tidak
tahu apakah Her akan mengambil tindakan menuntut Lion Air atau masih menunggu
kabar.
Jadi
pelajaran juga sih buat kita. Next time, koper harus diberi tanda khusus entah
dikasih pita, tag name, gantungan kunci, atau dipakaikan gembok pagar
yang besar sekaligus biar tidak tertukar dengan yang lain.
Dan
sampai hari ini, empat hari sudah koper itu tidak kembali. Poor Her……
