Archive for January, 2007

Bpk Pariwisata di Pesta

Monday, January 22nd, 2007

Kemarin saya pergi ke acara kawinan temen sekantor saya, Nina. Dari rumah jam 12, tiba di Aceh Sepakat jam setengah satu. Karena saya sendiri, mungkin agak aneh buat sebagian orang. Tapi saya sih cuek aja.

Pesta adat Aceh. Pelaminannya kuning keemasan, dan kedua pengantin berdiri di panggung, kelihatan sedang mengobrol. Saya masuk. Di sebelah kiri pagar ayu, di sebelah kanannya pagar bagus (bagus-bagus memang ! :p~~ )

Saya masuk dan duduk di daerah sebelah kiri, di belakang barisan pagar ayu. Di situ ada Intan, yang jadi penerima tamu. Dia sedang gantian jaga sama yang di luar. Makan dulu.

Setelah mengambil sedikit kue dan segelas air buah, saya kembali ke tempat duduk. Intan juga sudah mau kembali ke depan, menunaikan tugas mulia. Ya kan Tan? Hehhehe….

Celingak celinguk. Mana sih, kok muka-muka yang saya harapkan tidak muncul juga? Sms dari baba masuk, katanya minta dijemput. Bah! Cembetol aja, orang sudah di pesta juga.

Pas lagi celingak-celinguk begitu, tiba-tiba muncul seraut tampang ke-arab2an, berkumis. Alamaakkk…..!!

Ingat kan cerita saya ketika GA 187 balik ke Medan dan saya ganti pesawat ke GA 190? Waktu di GA 190 itu saya duduk di tengah, sebelahan sama bapak-bapak yang kerja di Dinas Pariwisata Provsu. Nah, itu dia! Muncul di pestanya Nina. Namanya Pak R.

Dia juga kelihatan surprise ada saya di situ. Haduh……….. malasnya, begitu pikir saya. Nanti pasti saya harus basa-basi lagi sama dia. Saya lalu berdiri, mau lihat-lihat jajanan lagi. Daripada bengong dan juga menghindari dihampiri sama Bapak tadi. Soalnya dia kelihatan melirik-lirik terus ke tempat duduk saya, daripada nanti datang dia….

Saya ke barisan jajanan di sebelah kanan. Lalu ngobrol-ngobrol sama Unyak. Gak lama, si Nurul sama suaminya masuk. Nah, ada juga muka yang ‘menenangkan’ begitu pikir saya. Langsunglah kami berbincang-bincang yang tak jelas.

Tahu-tahu Pak R itu sudah nongol di depan mata. Masih dengan senyum ramahnya (yang menurut saya agak kelewatan ramah).

“Hei…. apa kabar?”

“Baik pak..” saya menyunggingkan senyum. Halaqhh…

“Ini siapanya?” katanya nunjuk ke pelaminan.

“Oh, dua-duanya teman saya…”

“Kalau saya, orang tuanya ini teman sma saya…” timpalnya lagi.

Hah??!! *Gubraks* Matilah kita.

“Sama siapa???” tanya nya lagi sambil mMatanya melihat-lihat ke kanan kiri saya. Cari siapa sih Pak?

“Sendiri saja Pak.”

“Sama! Saya juga sendiri..” sahutnya cepat sambil nyengir-nyengir lagi.

So? Kenapa rupanya? Cembetol ajalah bapak ini..! Rrrrrrrr……………

Bapak ini ramah atau kelewatan ramah ya? Sekedar kilas balik, waktu di pesawat, saya terpaksa mengeluarkan novel karena dia “terlalu semangat” mengajak ngobrol. Sampai waktu turun dari pesawat, dan ketemu lagi sama bapak R ini di bawah, saya dikenalkan dengan anak perempuannya yang jemput dia di bandara. Habis itu saya langsung cabut, cari jalan lain biar gak kepentok dia.

Udah gitu, kira2 bulan lalu, saya dan rekan kantor ketemu dia di tempat makan. Dia naik avanza baru, sama sopirnya. Waktu itu dia bilang ke teman saya kalau dia kenal saya dia pesawat. Harusnya sih fine aja, cuma jangan terlalu excited napa?

Habis ambil minuman, dia pergi ke depan. Dia nyanyi dengan diiringi band kawinan.

Komentar Nurul, “Idih, suaranya gak nyambung.”

Lalu setelah nyanyi dua lagu, dia turun dan tahu-tahu sudah ada lagi di dekat kita. Hhhh…… Saya gak ingat betul apa lagi yang dikatakannya, tapi saya asal jawab aja dengan, “Gak nyanyi lagi, pak.”

Maksudnya biar dia segera pergi dari dekat saya. Dia tertawa-tawa lagi dan pergi ke depan.

Habis itu saya yang diledekin sama teman-teman saya. Gara-gara bapak pariwisata tadi. Huh… Borjong lah! :)
………

LIBURAN AKHIR TAHUN

Friday, January 12th, 2007

Tanggal 31 Des 2006. 15.10

Saya bersiap-siap turun ke bawah. Di persimpangan jalan kecil — yang memang seharusnya hanya untuk turun, namun karena jalan naik sedang ada galian, jadi semua kendaraan naik dan turun melalui jalan turun. Saya mengikuti kijang di depan saya, yang juga mengikuti fortuner gray di depannya. Ternyata di depan fortuner ada sedan yang mau naik, dengan antrian dua mobil lagi di belakangnya. Alhasil karena ingin menghindar, atau mungkin juga karena merasa mobilnya besar, fortuner itu nekat turun ke jalan tanah yang agak rendah. Sedan melaju pelan. Fortuner pun bermaksud mundur. Tapi apa daya, ternyata mobil jadi oleng!! Ban kanan belakangnya terangkat, dan pasti membuat panik penumpang di dalamnya. Beberapa penduduk mendekat, barangkali cuma ingin tahu saja, penasaran melihat mobil sebagus dan segagah fortuner. Petugas Hotel Niagara segera datang dan langsung berdiskusi. “Cemana tadi ceritanya bang? Kok bisa nyangkut kek gini?” begitulah kira-kiraaa…. :p~~

Semua mobil yang tadinya mau naik disuruh turun lagi ke bawah. Biar bergantian dengan kami yang akan turun.

Tidak sampai 10 menit, sambil tetap penasaran kira-kira bagaimana ya cara si fortuner keluar dari jebakan yang dalam itu? —- kami tiba di danau Toba. Ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk main jetski sepuasnya. Soalnya abang saya masih di Arab, berhaji dan memelihara brewoknya. Biasanya kalau ada abang saya, suka rebutan main (maklum armadanya cuma satu), dan saya tidak diijinkan bawa sendiri. Danau Toba yang seram dan agak-agak mistis itu memang suka buat kuduk merinding. Jadi ini benar-benar kesempatan langka, hihihihi…

Suasana di danau ramai banget. High season seperti ini memang bawa rejeki buat penduduk sekitar danau. Bebek-bebekan, skuter air (model jetski jaman jebot..), kapal feri, sampai ban pelampung, laku keras disewa pengunjung.

Meluncur di Danau Toba dengan jetski, diterpa angin lembut, air danau yang warnanya hijau gelap, benar-benar menikmati hidup namanya… Air yang tempias ke muka dan tangan ketika jetski menghantam ombak-ombak kecil…. wah…! Bisa gak membayangkan kita terlempar dari jetski di Danau Toba? Syukurlah tidak terjadi.

Tadinya waktu saya bawa jetski sendirian, saya mau nekat ke Tomok , kan cuma 10mnt kalau pake jetski — mau sebelah-2an gitu ama kapal feri biar aman, tapi kok ya ciut juga. Mending ada teman lain yang mau ke Tomok, ini saya sendiri. Ada sih jetski hijau yang baru turun, teman abang saya. Saya lihat dari jauh, si Oom Jetski Ijo itu sibuk ber-sliding, membuat ombak. Pakaiannya lengkap, dengan helm. Semuanya warna ijo. Kerumunan anak muda di pinggir danau menonton atraksi tersebut.

Lalu jalan ke Batu Gantung. Awalnya nebak-nebak saja, pokoknya kalo lihat ada kapal feri bermuatan penumpang jalan kesana, ya diikutin aja. Air di dekat batu gantung itu tenang dan jerniii…..hh banget. Hijaunya itu luar biasa indah. Terlihat masih murni dan belum tercemar. Udaranya juga segar, dingin. Batu gantungnya saya lihat dari dekat dan seperti legendanya, pahatan batu itu memang mirip badan anjing.

Dari situ, saya putar balik lagi. Skuter-skuter berseliweran, juga speedboat. Di sisi yang lain, keadaan airnya juga sama dengan di sekitar batu gantung. Hijau, tenang, jernih. Membuat perasaan sedikit bergidik, membayangkan apa yang ada di dalam danau yang tenang itu. Hiihhh……!! Di pinggir danau, langsung berbatasan dengan daratan yang ditumbuhi pohon-pohon kecil. Ada satu yang membuat pemandangan itu terlihat sangat nature. Ada pondok kecil…!! Satu saja, terbuat dari papan-papan, atap ijuk, dan warna hitam. Gelap. Tua. Tapi bersih. Pondok itu bentuknya seperti rumah. Mungkin tempat beristirahat nelayan.

Setelah menghabiskan waktu satu jam mutar-mutar dan ngebut di danau yang tidak ada ombak itu :p~~ saya capek juga. Balik ke daratan, ganti baju, dan duduk sebentar di pinggir. Jetski dibungkus dan dinaikkan dengan troli otomatis ke atas, disimpan.

Beberapa lelaki (ada yang gendut :p)—- teman abang saya juga, mulai bersiap-siap turun ke danau untuk main jetski. Ada yang jetski nya warna oranye, ada yang merah kotak-kotak. Ternyata sore hari dipilih sebagai jam meluncur, karena lebih banyak angin dan ombak.

Saya balik ke Niagara jam 6 sore, dan ketika akan naik saya intip dulu. “Oh, fortunernya dah gak ada, berarti selamat dia.” Terus saya baca Bismillah dulu, supaya tidak kepentok sama mobil yang mau turun. Dan saya pun selamat sampai ke atas.

* * *

Menjelang detik-detik pergantian tahun. Memasuki tahun 2007………. tik tok tik tok tik tok…….!! Teeeeeetttt….. toeeettttttt……..

Selamat Tahun Baru 2007.

Semoga resolusi kita tahun ini tercapai. ^_^

mengenang TOGAP

Friday, January 5th, 2007

Here’s my curhatitis when my beloved dog, Togap .. pass away a year ago. :(

Medan, 19 Oktober 2005.

TOGAP-ku sayang sudah pergi…
Setelah hampir seminggu terluka — karena digigit hewan kampung besar busuk jelek buas — akhirnya Togap ku yang mungil harus menyerah pada takdir. Ia tidak sanggup berjuang, dengan tubuhnya yang penuh luka besar. Aku tidak tau mau marah pada siapa, apakah karena drh nya yang kurang telaten menjahit lukanya, kurang pula memberi informasi ttg sakit dan cara perawatan di rumah — bgmn memberi makan kemudian kapan dibawa kembali— tp kemarin sore ketika aku membawa Togap k drh (sebelumnya dia kesana diantar spupuku) krn tidak mau makan dan semakin loyo, disana Togap disuntik dan dikasih makan paksa (sampe drh nya jg kena gigit dalam di jarinya).

Entah apa yg dilakukan drh nya ketika aku pergi sebentar beli obat Togap di apotik, tapi…ketika aku kembali, Togap sdh tertidur lemas. Tidak bertenaga.
Pulang ke rumah, malam itu aku lihat Togap tdk bs berdiri tegak. Badannya goyang2 kemudian terjatuh pelan, berbaring. Ia sempat membuka pahanya wkt Tt Cie mo mindahin dia ke keranjangnya, pertanda ia ingin dielus (aku melihat tp tdk mengelusnya. dan sekarang aku sangat menyesalll…. bagaimana mungkin aku tega tidak memberinya kasih sayang di saat dia sakit :( ). Tak lama kemudian, ia muntah. Semua obat dan makanannya keluar.

Tadi pagi, mami telpon aku, bilang klo Togap smakin lemas. Badannya mulai meregang. Aku sudah bergetar menahan tangis, tapi aku masih berusaha. Aku telpon TG, cerita btp sedihnya aku dan aku khawatir Togap tak selamat. Kata The Godfather, aku hrs cari drh lain, dan aku segera buka buku kuning utk cari drh lain.

Tapi tak lama O2 ku berbunyi lagi, dan ketika kubaca "Rumah" firasatku sudah tak enak.
"Si, Togap sudah tidak ada…" begitu kata mamiku. Kemudian telepon ditutup, dan aku segera lari ke toilet, menangis disana.

Sampai saat inipun aku masih merasa drh itu yg tidak becus mengobati, apalagi kemarin sore Togap dipaksa makan. Mgkn dia eneq, namanya jg sakit dan lemas, dipaksa telan begitu…. :(
Togap pun langsung dikubur di halaman depan, tanpa aku sempat pulang melihat jasadnya. Tp tak apalah, aku tahu aku tak akan sanggup klo melihat tubuh kecil itu terkubur (terutama dgn lukanya itu).

Aku masih ingat ketika di tempat drh, Togap memandangku terus tanpa lepas. Dia tahu aku ada disana dan tidak akan meninggalkan dia bersama orang2 asing itu…. tapi kini Togap sudah tidak ada…

Togap…. Togap…. maaf ya klo selama ini aku suka lupa sayang2 Togap…. :( Selamat jalan ya anjingku sayang….. mudah2an disana lukamu sembuh… jadi tidak sakit lagi… bisa maen2 dan lari2 disana…..

*huaaa………. jadi sedih lagiiiiii………..* :((