Umroh. Day 8, 15 Apr 2006

April 17th, 2006 by zizy

Day 8, 15 Apr 2006

 

Ini adalah hari
terakhir kami di Arab Saudi. Pesawat menurut rencana akan berangkat jam 21.40
waktu setempat, sehingga kami punya waktu untuk jalan-jalan ke daerah pertokoan yang Al Ballad  yang
jaraknya dekat saja dari Red Sea.

 

Jalan kaki ke
Ballad, lalu ke toko parfum. Si tukang jual parfum bilang, “Krisdayanti ambil
20botol tidak discount…” ketika ipar saya menawar harga parfum. Tapi emang
di-diskon kok. Bou saya beli banyak parfum untuk cucu-cucu lelakinya, sementara
saya sih kesempatan. Masukkan parfum dan lotion
yang saya pilih, lalu ayah saya langsung bayar sekalian dengan yang lain-lain.
Ketika beliau tahu saya punya ada 3, langsung pusing kepalanya. Hihihih….. :p

 

Pulang dari situ,
saya berempat dengan ipar, bou, dan Khaidar kembali ke Ballad. Ke toko Ali
Murah, bou saya ingin cari sejadah lagi untuk oleh-oleh. Saya tidak memilih
apa-apa, tapi ketika saya lihat ada : parfum roll on, saya langsung tertarik.
Wah…!! Banyak sekali parfum roll on dengan berbagai merk terkenal. Langsung
saya ambil saja beberapa buah untuk oleh-oleh ke saudara. Ipar saya juga. Dan
bou saya juga. Oh iya, Ali Murah itu terima rupiah lho…. lumayan, menghemat
riyal.

 

Balik ke hotel,
saya pamerkan parfum roll on itu ke abang saya. Langsung dia paksa saya temanin
dia beli ke Ali Murah, tapi karena sudah capek saya menolak. Dia langsung
ngomel-ngomel kembali ke kamarnya. Hhihihi…. Ya habis, giliran diminta
nemenin gak mau, tapi giliran dia mo belanja, langsung minta dikawanin, biar
ada yang menawar. :p

 

Jam 18.10 kami tiba
di Bandara. Check in barang-barang dan juga air zam-zam (masing2 dapat 5ltr). Rasanya
lamaaaaaaaaa……………………. sekali menunggu jam 21.40 itu.
Bolak-balik, bolak-balik, akhirnya apa yang gak perlu dibeli jadi kebeli juga
di bandara itu.

 

Tapi.

Ada sesuatu yang
merusak pemandangan. Apa itu?

Malam itu bandara
penuh oleh para TKW Indonesia yang akan pulang kembali ke Indonesia (Jakarta).
Mereka berpakaian tidak cukup sopan untuk daerah Jeddah. Pakaian ketat
mencolok, ada pula yang transparan dan bolong-bolong  (maksudnya ada lobang-lobang kecil gt lah,
tahu dah apa istilahnya), atau yang lengannya terlalu pendek.

 

*Memang
sih, di Jeddah, boleh saja tidak memakai penutup kepala, tapi setiap wanita
diwajibkan memakai “abaya” bila berada di tempat umum. Abaya itu pakaian hitam
panjang (hanya hitam, bukan warna lain). Di Jeddah, nonmuslim juga wajib
memakai abaya, walau tidak wajib pakai kerudung. Kalau di Mekah dan Madinah,
adalah tanah haram, jadi non muslim dilarang masuk kesana. Lajur jalan
raya untuk masuk ke kota Jeddah juga terpisah antara jalur muslim dan
non-muslim.*

 

Belum lagi cekakak
cekikik mereka, lalu obrolan genit yang kuat sehingga terdengar oleh orang
lain. Seperti ketika mengantri untuk naik pesawat, di belakang kami terdengar
tawa-tawa genit. “Ngapain lagi dipakai abayanya… kan udah mau pulang.” Atau.
“Untung aku dapat bos yang baik, suka begini.. begini…..” bla bla bla…

Bou saya sampai
geram mendengarnya. “Perasaan maid
kita di rumah saja tidak begini kurang ajarnya. Pantas saja orang-orang Arab
itu marah sama mereka (maksudnya soal kasus pemukulan tkw dll –ed) , kita saja
kalau dapat maid seperti ini marah.”

 

Saya jadi mengerti
sekarang, kenapa orang Arab memandang rendah terhadap orang Indonesia, khususnya
wanita.
L ternyata wanita nya sendiri yang tidak
bisa menghargai dirinya. Kasihan sekali.

 

Jam 23. lewat,
pesawat take off.

 

Zzzz………zzzzzzzz……….zzzzzzz………..
tidur tidur tidur.

Umroh. Day 7, 14 Apr 2006

April 17th, 2006 by zizy

Day 7, 14 Apr 2006

 

Hari Jumat adalah
hari libur nasional di Arab. Tidak semua toko buka. Dan ketika akan sholat
Jumat, tempat untuk wanita itu full
!! Untunglah saya dan ipar saya cepat bergerak sehingga dapat tempat, itu juga
di lantai, bukan di karpet. (Oh iya, ibu dan bou saya memang sering terpisah
dari kami, karena mereka tidur di suite
yang berbeda dari kami, anak-anak muda…. cieee, anak muda…). Ketika kami
keluar, ternyata di halaman juga penuh. Pantas saja semua memaksa untuk duduk
di jalan-jalan, biarpun diusir-usir dengan suara kenceng ( !!) oleh perempuan2
bercadar. Rata-rata semua perempuan Arab membawa anak-anaknya, jadi saat kita
sholat, ada tangisan bayi yang sahut menyahut. Tidak bermaksud mengurangi makna
ibadah di Nabawi ya, tapi suasana khusuk jauh lebih terasa ketika saya di Haram.
Begitu pula yang dirasakan oleh ipar saya, ibu dan bou saya. Sementara kaum
bapak sih tidak masalah, tempat mereka sholat jauh lebih luas dari tempat untuk
para ibu.

 

Sambil menunggu jam
3 untuk check out untuk kembali ke Jeddah, saya dan ipar saya keliling lagi
lihat-lihat. Selendang di sana bagus-bagus, belum lagi sejadahnya. Motifnya
motif baru. Saya sampai bolak-balik naik turun karena mencari selendang dan
jilbab lagi buat ibu dan bou saya. Terus keliling juga cari poster besar
titipan teman kantor saya. Sempat ditakut-takutin sama abang saya, katanya
tidak diizinkan dibawa naek pesawat. Tapi saya coba saja, ternyata tidak tuh! Dasar
usil. Dia memang paling malas kalau disuruh nemenin, ngomel aja kalo udah lama
dikit. Akhirnya saya berdua ipar saya saja yang pergi.

 

Jam 18.20 kami
terbang kembali ke Jeddah — lagi-lagi dengan pesawat goyang-goyang. Banyak
awan ternyata. Sampai di Jeddah jam 19. dijemput oleh Khaidar dan seorang
temannya, mahasiswa asal Banten. Kami berencana langsung ke Red Sea Palace
(tempat menginap ketika pertama x datang), tapi kemudian diputuskan untuk makan
tomyam dulu. Kami semua sudah ngiler-ngiler, sebab selama di Oberoi Madina,
kami makan di resto nya yang menyajikan makanan yang kental dengan bumbu Arab
(karena memang sebagian besar tamu adl orang Arab, org Indo hanya saya &
keluarga saja). Saya sampai kehilangan selera karena tidak menemukan makanan
yang rasanya pas di lidah. Ayam dan ikan, dimasak dengan kari, tapi rasanya
aneh. Beef steak nya bolehlah, agak
lumayan. Nasinya nasi britani (alamak…!!). “Wah! Ada nugget…!” pekik saya
girang. Tahu-tahu ketika digigit, nuggetnya manis, isi jagung pula. Udang
goreng mentega (eh gak tahulah, mentega atau apa itu), rasanya juga aneh. Telur
orak-ariknya basah banget.

Jadilah saya makan
telur rebus (kalo lagi ada) atau roti bulat tawar dengan mentega. Lebih aman.
He he he ….

 

Tapi, ketika sudah
menunggu 1 jam (karena hari itu kan Jumat, hari libur sehingga banyak keluarga
yang makan di resto itu) sesuai kata si resepsionis restonya, ayah saya sudah
curiga. Kok lama banget. Ketika dicek kedalam sama abang saya, ternyata pesanan
kami sama sekali belum disiapkan. Malah ada satu keluarga Arab yang datang
belakangan didahulukan. Mau marah rasanya — tersinggung karena seakan-akan
kita tidak bisa bayar, namun makela saya (bpk.Bismar Siregar) mengingatkan kita
semua untuk bersabar dan menerima ini sebagai cobaan.

Driver kami, Aiman
— si Arab preman, bilang ke Khaidar, kenapa gak bilang ke dia, biar dia
labrak ke dalam. Hahaha…. si Aiman ini memang gila lho. Nanti di jalan kalau
ada pengendara lain yang salah (at least menurut dia), pasti mereka saling
memaki dengan semua nama hewan.

Tapi memang
begitulah adat orang Arab. Mereka kurang respek dengan ras lain, termasuk pula
orang Indonesia, apalagi wanita Indonesia.

 

Ya sudah, akhirnya
kita makan di hotel saja. Lagi-lagi makanan tak jelas. Hiks…!

Umroh. Day 6, 13 Apr 2006

April 17th, 2006 by zizy

Day 6, 13 Apr 2006

 

Menurut rencana,
pada hari Kamis ini kami akan dibawa oleh Ma’ruf (pemandu kami di Madinah)
untuk city tour ke tempat-tempat
bersejarah di Madinah. Karena itu pada pukul 7 pagi kami diminta berkumpul di G
karena harus ke roudah, untuk sholat sunnat disana.

 

Karena telat, kami
para wanita berkumpul di bawah jam 7.30, sehingga antrian untuk masuk roudah
sudah panjang. Ditemani oleh Mbak Ria (wanita Indonesia yang tinggal di
Madinah), kami diantar masuk ke roudah.

 

Tapi sebelumnya, di
pintu masuk Masjid Nabawi, seperti biasa kami diperiksa. Dan kemudian, hp
kamera saya ketangkap (sebenarnya bukan saya sengaja bawa lho… cuma jaga-jaga
kalau ada sms penting dari kantor. :D ), langsung saja saya tidak diperbolehkan
masuk. Memang waktu subuh saya saya sholat di dalam, tapi karena masih pagi tentu saya
tidak membawa tas atau hp, makanya aman saja masuk. Lagipula saya mengira mereka hanya akan memeriksa kamera saja, seperti waktu di Haram.
 

Perempuan bercadar
itu mengatakan sesuatu pada saya dalam bahasa Arab sambil menunjuk ke arah luar.
Saya sudah mau beranjak, ketika Mbak Ria keluar kembali, dan ternyata
yang dimaksud wanita Arab tadi adalah locker
yang terdapat di dekat pintu masuk. Bergegas saya kesana, masuk dan meminta locker pada cowok penjaga. Ia meminta SR.1 pada saya untuk biaya perjam. Lalu HP saya masukkan kedalam locker, kemudian si petugas memasukkan selembar uang SR.1 saya, menekan tombol merah, dan keluarlah sebuah kunci
plastik bulat yang saya simpan sendiri. Canggih juga! Belum ada yang kayak gitu
kayaknya di Medan. Mesin Pepsi otomatis aja kayaknya gak jalan deh… hihihi…

 

Usaha untuk dapat
masuk ke roudah dan berdoa disana ternyata jauh lebih sulit dari ketika saya
kemarin akan mencium Hajar Aswad. Disini semua saling dorong-dorongan. Saya
bahkan sempat menabrak seseorang yang sedang sholat. Soalnya kami semua ingin
ke depan, sementara banyak jemaah yang akhirnya sholat saja di tempat yang
memungkinkan, meskipun sempit dan terjepit. Seperti juga ipar saya, sehingga
saya jadi pagar bodi menahan dorongan ibu-ibu Arab agar dia tidak terinjak.
Tapi akhirnya saya, ibu saya, dan juga bou saja berhasil sampai ke depan. Tidak
lama waktu untuk sholat karena antrian banyak sekali. Ada seorang ibu asal Indo
yang berdoa terlalu lama sehingga si penjaga bercadar sedikit jengkel. Ia minta
tolong pada Mbak Ria agar bilang ke ibu itu, jangan terlalu lama berdoa…masih
banyak yang mau berdoa juga disitu.

Yeah, mungkin
sedikit kekacauan dan ketidaksabaran itu karena kalau di Hajar Aswad kami hanya
menyentuh dan mencium jadi setelah selesai langsung cabut, sementara disini
harus berdoa yang makan waktu sedikit lebih lama.
 

Setelah itu kami langsung City tour, pertama kali adalah ke Masjid Quba. Ruang sholat disini juga sama dengan di Nabawi, wanita dan pria tidak bisa saling melihat. Halamannya dijejeri pohon-pohon kurma yang sudah agak tua. Tukang jualan juga banyak. "Hajjah..! Duabelas, sepuluh reyal." kata si Ibu tua bercadar yang berjualan. Saudara saya langsung dikerubuti oleh gerombolan ibu-ibu itu, soalnya dia memborong hampir semua tasbih dan kalung. "Untuk oleh-oleh di Siantar," begitu katanya.   Pohon_kurma

Kemudian kami ke Jabal Uhud, tempat rasul dan para sahabat dulu berperang. Lalu kami melewati Masjid Kiblat, lalu………….
zzzz….zzzzz….. saya tertidur di bis saking ngantuknya.

Tiba di pasar kurma,
saya terbangun. Semua penumpang langsung turun, seperti biasa kalau sudah lihat bakal oleh-oleh…

Kakek penjual mempersilahkan kami mencicipi semua kurma dan coklatnya.
“Halal…” maksudnya kita boleh makan, tidak usah takut diminta bayar untuk
yang dimakan itu.

 

Beli kurma rasul
(yang harganya berkali-kali lipat harga kurma biasa…), kemudian kacang arab,
dan juga coklat (ada coklat isi kurma). Semua di-packing langsung di tempat. 

 

Image482

Dari situ kami
kembali ke hotel. Makan siang di hotel.
Selanjutnya acara bebas. Jadi seperti biasa, selain sholat
wajib dan sunnatnya, disela-sela itu saya sempatkan keliling-keliling pertokoan
di kompleks Oberoi. Cuci mata lihat-lihat mas… slurrppp!! Lalu minum frappuchino di Starbucks.Starbucks_madinah3

 

Secara umum, orang
Arab di Madinah lebih welcome daripada
Arab di Haram. Mereka lebih ramah, apalagi memang penduduk Indonesia terkenal
paling konsumtif dan suka belanja. Dan rata-rata pedagang di sana bisa bahasa
Indonesia. Mulai dari pedagang keliling, “Haji. Ini, mnginyak onta…
bagus…satu reyal.” Atau tukang mas berkulit hitam di toko mas. Setiap saya
tawar harga masnya langsung geleng-geleng kepala kayak kapok. “Gak. Gak.” Gitu
katanya. Saya dan ayah saya sampai ketawa-ketawa gara-gara si Ahmad itu (namanya).

Umroh. Day 5, 12 Apr 2006

April 17th, 2006 by zizy

Day 5, 12 Apr 2006

Pada hari kelima,
kami meninggalkan Mekah, untuk menuju ke Madinah. Setelah sarapan pagi (ala
Indonesia juga), kami melaksanakan Thawaf Wadah (thawaf untuk pamit
meninggalkan Haram), tetap sebanyak 7x putaran. Sekali lagi saya berhasil
mencium Aswatu Aswad, juga (lagi-lagi) setelah terombang-ambing oleh dorongan
wanita-wanita Arab yang besar.
:)

 

Jam 2 siang, kami
tiba di Bandara di Jeddah, dan memilih makan siang di sebuah kafetaria di situ.
Makan kentang goreng, big chicken nugget (big ya…!), dan sepotong besar kue,
itulah kira-kira paketnya. Ada juga pizza kalau mau. Benar-benar makan besar. Namun sebelumnya, kami sempat berkeliling kota Jeddah, melihat Mesjid Terapung, serta bangunan istana raja-raja.

 

Pesawat kami tiba
di Madinah jam 7malam. Penerbangan ke Madinah tidak begitu bagus, sepertinya
selalu ada gangguan cuaca setiap berada di atas. Pesawat bergoyang-goyang, lalu
tenang kembali, lalu goyang lagi. Tapi mungkin juga saat itu memang cuaca lagi
jelek ya.

 

Kami menginap di
Oberoi Medina, Madinahyang jaraknya hanya 10m dari halaman Masjid Nabawi. Tinggal
turun ke “G”, keluar, jalan sebentar, dan langsung masuk ke halaman Masjid.
Sebelumnya waktu di Mekah, Elaf Kinda itu kira-kira 80m dari halaman Masjidil
Haram. Jadi waktu hari pertama di Mekah, saya dan ipar saya terlambat bangun
sore, sehingga lari-lari agar tidak ketinggalan maghrib berjamaah di dalam mesjid. :D

 

Dsc02074

Malam pertama di Madinah,
saya dan ipar saya telat bangun lagi karena kecapekan. Kami lari-lari ke mesjid
(untung dekat) dan dapat tempat di luar mesjid. Begitu pula saat isya, ketika melihat antrian di pintu masuk begitu ramai dan berdesakan, kami
putuskan untuk di luar saja. Masjid Nabawi
berbeda dengan Masjidil Haram. Disini ruang sholat bagi tempat wanita dan pria betul-betul terpisah, sehingga jemaah wanita tidak bisa melihat pria sama sekali, bahkan
imam-nya juga tidak terlihat. Sementara kalau di Haram, terbuka 24jam dan semua
bisa masuk (karena di Haram kan ada Ka’Bah). Di Haram, untuk batas wanita hanya disekat oleh dinding/rak bambu saja. Jadi
Ka’bah atau imam masih bisa terlihat (kalau dapat posisi yang bagus tentunya).

Umroh. Day 4, 11 Apr 2006

April 17th, 2006 by zizy

Day 4, 11 Apr 2006

 

Seharian ini saya
dan keluarga menghabiskan waktu untuk beribadah di Haram. Di sela-sela waktu
itu, saya jalan-jalan ke Pasar Seng untuk menemani ipar saya berbelanja
oleh-oleh. Semua dibeli ! Sampai kopernya beranak ! Saya sih hanya membeli
beberapa oleh-oleh saja untuk teman-teman dekat saya di kantor, soalnya tidak
mau sampai koper harus beranak segala, he he ….

 

Di Plz. Hilton,
sempat lihat-lihat emas. Waduh, gelang nya bagus-bagus sekali. Cantik-cantik. Mas Dubai,
Arab, India. Model nya itu unik-unik, membuat mata jadi segar setelah kena debu padang
pasir. Untuk harga, SR.69/gr untuk mas Arab dan mas India, SR.78/gr untuk mas
Dubai.

Selama mata saya kebetulan menangkap dan melihat, rata-rata semua wanita Arab pasti mengenakan perhiasan mas. Mulai dari
bayi, anak-anak, remaja, ibu-ibu, sampai yang tua. Dari yang abayanya begitu mengkilat dan keliahatan mahal sampai mereka yang terlihata sederhana saja. Mungkin untuk ukuran Arab, harga-harga mas itu tidak terlalu mahal ya.

Umroh. Day 3, 10 Apr 2006

April 17th, 2006 by zizy

Day 3, 10 Apr 2006

 

Setelah sarapan di resto, kami langsung city tour.
Pertama kali rutenya ke Jabal Shor (lupa saya Thor atau Shor yaa…), tempat  Rasul dan sahabatnya dulu bersembunyi saat berperang.  Disini, ada juga seorang pria paruh baya Arab yang mengemis.  Kakinya buntung. Dsc01988




Lalu perjalanan dilanjutkan ke Arafah,
dan bis kami akhirnya berhenti di Jabal Rahmah. Sempat mendaki ke atas, melalui tangga-tangga batu yg sudah ada. Dsc01996 Lumayan tinggi juga,
walaupun tidak setinggi Gua Heraa. Di jabal rahmah, pedagang kaki limanya juga
banyak sekali yang berkulit hitam. Rata-rata mereka lumayan bisa berbahasa
Indonesia yang gampang-gampang, seperti harga. Tapi ada juga yang kasar, jadi
harus berhati-hati sama mereka. Kalau tidak mau, langsung tolak saja. Seorang
bapak asal Indonesia, saya lihat diminta uang paksa oleh tukang foto polaroid,
karena tidak mau membayar foto sesuai harga yang diminta. Si bapak hanya mau
bayar SR.2 sementara, patokan si tukang foto SR.5. Akhirnya si kulit hitam juga
yang menang, karena si bapak tadi tentunya tidak mau cari masalah di negeri
orang. Saya juga mencoba naik unta. Unta
ini memang hewan yang unik banget. Cara dia berdiri dan duduk itu,
naik turun seperti ombak. Begitu berada di atas unta, woww…. tinggi banget.

Lalu perjalanan
dilanjutkan ke Jabal Nur, dan ke Gua Heraa. Di parkir, dari dalam bis, kami
melihat ada titik-titik putih bergerak pelan di kejauhan. Ternyata itu orang
yang mendaki ke atas untuk mencapai Gua Heraa! Kami memilih untuk tidak mendaki, karena
untuk naik ke atas, makan waktu 1-2jam.

Di kanan kiri jalan
yang rata-rata padang pasir, unta-unta dan domba banyakkkk sekali. Juga
rumah-rumah batu di tengah-tengah padang pasir. Kata Khaidar, itu adalah rumah
orang2 suku Badui, yang memang suka sekali tinggal di padang pasir dan gunung. Terlihat
sekilas dari jauh, memang seperti rumah-rumah biasa, namun sebenarnya suku-suku badui itu cukup kaya. Mereka
punya banyak tanah, mobil dan bis untuk usaha travel, dan juga ternak.

 

Dalam perjalanan
kembali ke Haram, kami menyempatkan diri ziarah ke makam Opung saya yang wafat di Mekah ketika berhaji pada tahun 1986. Lalu kami juga melewati
Mesjid Jin dan Mesjid Rayah (atau Mesjid Kucing). Juga melewati rumah dimana
Nabi Muhammad SAW dilahirkan, yang sekarang sudah berubah jadi perpustakaan.


Tiba di Haram, kami
melakukan thawaf sunnat lagi. Saya berhasil mencium Aswatu Aswad, walaupun
setengah mati berdorong-dorongan dengan wanita-wanita Arab yang bodinya
gede-gede.. he he he.


Setelah dzuhur dan
makan siang, saya beristirahat sebentar sebelum kemudian keliling
melihat-lihat. Di Masjidil Haram, setiap saat lantainya selalu di-pel. Tidak
ada yang namanya genangan air atau becek-becek bekas kaki di lantainya. Semua
bersih! Tempat wudhunya yang berada di luar, sebelum pintu utama, sampai 3
lantai ke bawah (basement). Sementara di luar mesjid, merpati-merpati beterbangan atau sibuk makan di tanah. Indah sekali. Kalau ingin memberi makan merpati, gampang saja. Makanannya dijual disitu juga, oleh wanita-wanita kulit hitam.

Umroh. Day 2, 9 Apr 2006 :

April 17th, 2006 by zizy

Day 2, 9 Apr 2006 :

Jam 10. pagi, kami
langsung menuju Mekah bersama Khaidar, guide kami dan Aiman, sopir Arab. Di perjalanan, udara agak mendung. Kata Khaidar, di
Mekah hujan turun 1tahun sekali, dan kemarin (tgl 8 mksdnya), turun hujan di
Mekah!

Sekitar jam 11.15
tibalah kami di Mekah. Langsung cek in di Elaf Kinda, karena kami mau langsung
thawaf, mengejar waktu sebelum dzuhur. Di jalan depan hotel dan Plz. Hilton,
banyak pengemis kulit hitam yang duduk di tanah meminta-minta. Rata-rata dari
mereka cacat, ada yang tangannya putus, atau kakinya. Anak-anak kecil, juga ada
remaja tanggung. Perempuan & laki-laki.

 

Ketika melihat
Masjidil Haram untuk pertama kali rasanya takjub bukan main. Bangunan itu
begitu megah, mewah, bersih, ya…. singkatnya luar biasa. Kemudian ketika kaki
menginjak bagian luar mesjid, kemudian melangkah masuk ke dalam mesjid —
setelah melalui pemeriksaan kamera & ll —- terlihatlah Ka’bah. Ka’bah
yang tidak pernah sepi oleh umat Islam yang ber-thawaf.

Putaran ke-1
………….

Putaran ke-2
………….

Putaran ke-3
………….

Ketika akan melakukan putaran ke-4, dua
orang polisi Arab mengusir kami ke pinggir. Sempat bertanya-tanya dan sedikit panik, ada apakah,
namun kemudian kami tahu jawabannya. Sudah dekat ba’da dzuhur, jadi wanita
tidak boleh lagi berada di area Ka’bah karena para lelaki akan sholat di situ.
Maka pindahlah kami para wanita ke bagian dalam mesjid, ke tempat para wanita
seharusnya berada. Selesai sholat dzuhur, kami pun berkumpul kembali di tempat
semula dan melanjutkan thawaf yang tertunda. Pas ketika kami akan sholat sunat
di belakang makam Nabi Ibrahim, hujan turun rintik-rintik. Oh iya, lantai marmer
di Masjidil Haram itu terbuat dari marmer terbaik, rasanya di telapak kaki
tetap dingin meskipun panas terik membakar di kepala.Kabah_2

Kemudian
dilanjutkan dengan Sa’i………………dan kemudian memotong rambut. Lumayan
pegel juga di telapak kaki, meskipun lantai tempat Sa’i itu pakai marmer yang
halus.

 

Ingin rasanya
berfoto di dekat Ka’Bah, tapi jelas sekali itu tidak mungkin. Untuk alasan
keamanan, kamera tidak diperkenankan masuk (kecuali hp kamera, entah kenapa
tidak diperiksa, sehingga hp saya lolos). Akhirnya saya foto sedapatnya saja dengan kamera, jadi hasilnya juga fotonya miring.

 

Masjidil_haram

Setelah umroh
selesai, saya dan keluarga langsung balik ke hotel. Menyerbu makan siang. Pihak
travel menyediakan cathering masakan Indonesia. Tiap kamar juga dibekali teh,
kopi, susu, ovaltine, gula, lusinan gelas & sendok plastik, juga roti &
selai kacang. Saya sempat mencoba KFC di Plz Hilton, yang  antrian di kasir untuk pria &
wanitanya dibuat pembatas (begitu juga di resto-resto lainnya). Potongan ayamnya
gede-gede loh. Ayam arab! Hehehe…..

 

Siang sampai sore,
istirahat di kamar, dan juga sholat wajib dan sunat di mesjid. Rasanya sayang bila tidak dimanfaatkan dengan baik, sebab kita disana cuma beberapa hari.
Di samping itu, setiap habis sholat subuh dan insya, jalan raya depan Plz. Hiton, tempat jemaah keluar dari Masjid, penuh dengan pedagang kagetan. Mulai dari jualan baju/abaya, tasbih, pernak-pernik, dan juga minyak onta. Toko makanan di sisi luar Plz. Hilton juga sudah buka sejak subuh, karena biasanya langsung ramai diserbu pelanggan. Saya sempat mencoba kebab, harganya SR.3. Boleh juga rasanya.

Umroh. Day 1, 8 Apr 2006 :

April 17th, 2006 by zizy

Kemarin sore saya
baru tiba dari Jkt setelah lebih kurang delapan hari saya dan keluarga saya
pergi ke Jeddah untuk melaksanakan ibadah umroh. Kami bersembilan; saya, abang
& istri, ayah & ibu, serta satu sepupu saya dari Medan, bergabung
bersama Bou & Makela saya dan seorang anaknya yang tinggal di Jkt.

Ini adalah umroh
pertama bagi kami keluarga di Medan sehingga kami cukup excited
melaksanakannya.

So, berikut pengalaman saya… :) Otw_to_jeddah

Day 1, 8 Apr 2006 :

Sesuai rencana di
tiket, kami seharusnya berangkat jam 13.30 dengan Saudi Arabian Airlines. Tapi
ketika tiba di sana jam 11.30, tahu-tahu pihak travel mengabarkan kalau
penerbangan delayed sampai jam 15.30!
Padahal saya dan keluarga saya sudah cabut dari Arya Duta cepat-cepat, sampai
ngebut di jalan tol. Hayahhh… benar-benar membosankan. Akhirnya kita semua
menunggu di Citibank Lounge, ngobrol-ngobrol, makan, dll. Tapi lounge nya
jelek, makanan cuma lontong sate dan mie goreng yang tidak begitu enak. Pilihan
minuman juga tidak begitu menarik.

Karena bosan, saya
jalan-jalan ke duty free shop di
bandara, bersama abang saya & istrinya. Setelah membeli saos ABC ( ! ),
kita kembali lagi ke lounge.

Sempat tertidur,
lalu ketika terbangun pukul 15.00, saya mendapat telepon dari teman saya. Dia
lagi di bandara, dan akhirnya saya memutuskan untuk keluar menemuinya.

Sebenarnya saya
agak ragu, karena boarding time nya
jam 15.30. Tapi kan di papan masih tertera : “delayed” begitu pikir saja.

Setelah
ngobrol-ngobrol sebentar, saya agak cemas juga. Sudah 15.15. Tapi kok di papan
masih “delayed” juga? Akhirnya saya putuskan untuk masuk saja. Ketika melewati
bagian pemeriksaan boarding pass,
tahu-tahu : “Panggilan ditujukan kepada Ibu ………, penumpang pesawat Saudi
Arabian Airlines, tujuan Jeddah, diminta segera naik ke pesawat!” GUBRAK!! Saya
langsung lari. Hp saya berbunyi, saya angkat, dari ayah saya. Ngomel-ngomel
beliau (Duh…! Tapi saya berusaha tenang menjawab, walaupun panik juga). Saya
minta maaf pada orang2 di antrian karena telah memotong antrian, lalu saya
paksa agar petugasnya segera memeriksa ulang paspor & boarding pass saya.
“Sebentar ya Bu.” Katanya. Pengeras suara lagi-lagi kembali mengulangi
panggilannya. Nah, akhirnya tiba giliran saya, dan si petugas langsung menyuruh
saya segera berlari ke dalam. “Wah, bu. Ini sudah boarding. Langsung masuk saja
Bu. Segera.” Yeeee……… gw bilang juga apa.

Saya langsung lari . Lari.
Lari. Sekencangnya. Lari di sepanjang koridor pertokoan yang panjang itu. Di kejauhan seorang
petugas SaudiA melihat saya dan berlari juga menghampiri. “Ayo Bu, cepat Bu.
Lari Bu.” Sampai depan pemeriksaan, lagi-lagi harus berhenti sebentar, lalu saya lari lagi….
Aduh..!! Ngos-ngosan…! Sprint di siang hari.

Saya lihat di ujung
sana wajah cemberut ayah saya (hihihi…), beserta tiga saudara lelaki saya.
Ternyata tinggal menunggu saya saja. Pfiuhhh..!! Biarpun sempat diomelin, tapi
tak lama wajahnya sudah normal kembali.

Dalam hati saya
masih sedikit merasa tidak bersalah. Siapa suruh boarding time di papan tsb tidak update? Tapi, sebenarnya salah kita juga. Kita menunggu di lounge terlalu lama, bukannya di ruang
tunggu, jadi tidak tahu perkembangan terakhir.
J

 

16.00 wib. Pesawat take off. Jakarta -Riyadh (transit) –
lalu ke Jeddah. Penerbangan memakan waktu 8,5 jam. Di pesawat kita mengobrol,
makan (bolak-balik di-serve makanan), dan sedikit tertidur.

Sekitar pukul 00.30
wib, atau 20.30 wkt setempat, SaudiA mendarat di Riyadh. Sebagian besar penumpang,
termasuk diantaranya tkw asal Indo, turun di Riyadh. Suasana kota Riyadh
dilihat dari atas SaudiA, terang sekali di malam hari, semua lampunya berwarna
kuning. Ketika sedang terkantuk-kantung, HP ayah berbunyi kuat sekali! Hayah…
buat kaget orang saja.

1jam kemudian,
perjalan dilanjutkan ke Jeddah. SaudiA tiba di Jeddah around 11. waktu setempat. Sebagian penumpang sudah berpakaian
ihram, ternyata mereka malam itu juga langsung lanjut ke Mekah untuk thawaf.

Kami dijemput oleh
perwakilan Patuna Travel di Jeddah, Khaidar. Langsung ke Red Sea Palace, karena
semua sudah capek. Di belakang Red Sea Palace terdapat aliran Laut Merah, tapi
airnya ya keruh… agak-agak butek.

I Miss My Togap

April 4th, 2006 by zizy

Image_660Duh..! My Beloved Dog.
Untung masih ada pernak-pernik yg bs membuat sy teringat terus ama dia.
Ini salah satunya. Boneka Ogap…..

TILANG 2,5 JAM…!

March 6th, 2006 by zizy

Senin ini sepertinya bukan hari yang baik buat saya. Sore
tadi, jam 16.45 ketika baru meluncur keluar kantor, di persimpangan lampu merah
dekat kantor Metrotv, saya berpapasan dengan sedan patwal polisi. Cuek —
seperti biasa, saya potong dan tetep nyetir seperti biasa.

 

Tiba di lampu merah grand angkasa — memasuki jl.sutomo,
ternyata mobil patwal itu memang mengikuti mobil saya. Kemudian dia melewati
saya dan memberi tanda agar saya minggir. Saya tidak mau minggir dan memotong
mobilnya. Polisi sialan itu langsung meng-klakson saya dengan klakson towa nya
itu. Benar-benar menyebalkan. Dan karena emosi, saya berhenti juga. Saya diam
saja di mobil sampai si pak polisi itu menghampiri ke mobil.

 

Bla bla bla….. singkat cerita ada ‘kesalahan prosedur’ (bukan
safety belt loh!) di mobil saya yang menurutnya harus ditindaklanjuti. Saya
sempat bersilat lidah dengan dia, namun saya putuskan tidak mau ribet. Pada
dasarnya saya memang paling tidak bisa berbasa-basi dan ‘minta maaf dengan
memberi uang’ akhirnya saya berikan surat2 saya ke dia (

surat

cinta kaleee…). Sebelumnya sih saya berkeras tidak mau kasih, dan si bapak
kelihatan tidak sabar. Dia bilang : “Sekali lagi Buk, dengan hormat, mohon
tunjukkan SIM dan STNK nya. Silahkan saja Ibu menelepon, tapi tolong SIM &
STNK…”

 

“Eh Pak. Sabar dong, saya gak bakalan lari. Semuanya lengkap
kok.”

 

Kemudian ketika nomor tujuan yang saya tuju telah tersambung
dan saya berikan HP saya kepadanya, dia pun bicara dengan manggut2 di HP. “Saya
bisa Bantu, Pak. Iya… bener pak, saya tidak tahu…. Iya pak. Iya. Soalnya tadi
Ibu ini tidak minta tolong pada saya. Nah, sekarang saya sudah sempat menulis
buku tilang Pak.”

 

Brengsek gak sih! Jelas-jelas tadi ketika saya meminta
waktu, dia buru2 minta surat2 untuk dituliskan di buku tilangnya itu. Saya
bilang, silahkan saja tulis buku tilangnya itu.

 

Saya biarkan dia menuliskan buku tilangnya, dan mengambil
STNK saya sebagai jaminan. Katanya,

surat

itu masih ada padanya sampai sore itu, dan dia akan ada di Pos Polisi Lap.
Merdeka sampai dengan jam 18.00. Saudara saya menelepon dan menyuruh saya
menunggu saja di rumah, biar dia yg menyelesaikan masalah tersebut.

 

Sekitar pukul 19.30, STNK saya sudah kembali dengan selamat
ke tangan saya. Diantar sama adik angkat saudara saya itu. Gile bener……!!
Setahu saya buku tilang kalau sudah dirobek, harus diproses dan masuk
pengadilan. Saya tanya tadi sama yg antar, “Bicara apa polisinya?” “Ga ada.
Langsung dikasih aja.”

 

Tips : hati2 sama polisi

Medan

(ato polisi dimana sajalah…)!! Ada aja akal bulusnya.

^_^ *Peaceee……..*